Bogor (KN) – Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, SE, melaksanakan panen raya padi varietas baru Siliwangi Parikesit Dewi Sri Agung (SPDSA), di Desa Tegal Panjang Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Sabtu (3/3). Turut hadir pada kegiatan ini, antara lain Wakil Menteri Pertanian RI Prof. Rusman Heriawan, Pelindung Paguyuban Penyayang Alam Umat Semesta (PAUS) Letjen TNI (Purn) Soeyono, para Asisten Panglima TNI dan Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, SE.
Panen ini diprakarsai oleh Detasemen Markas (Denma) Mabes TNI dan Kelompok Tani (Poktan) Desa Tegal Panjang serta Paguyuban PAUS. Hasil panen tersebut dari Poktan desa Tegal Panjang 22 Poktan yang mengelola 8 Ha lahan sawah. Dari desa Babakan Jati 20 Poktan mengelola 9 Ha lahan sawah. Sawah di desa ini merupakan sawah tadah hujan dan tanahnya merupakan lahan kritis, dengan top soil berkisar antara 10 s.d 15 cm, dibawahnya sudah terdapat batuan dan pasir.
Padi Sri Agung yang di panen merupakan generasi ke 15 atau F 15 dari hasil penemuan dan karya prajurit TNI. Padi Sri Agung ini telah di tanam di beberapa daerah kabupaten di Pulau Jawa sejak tahun 2006 s.d sekarang. Masa tanam padi ini berkisar sampai 4 bulan. Padi yang berkualitas unggul, dengan rasa pulen, panjang malai rata-rata 25-35 cm, dengan 400-650 butir padi, berlabel ungu, tinggi batang padi + 120-140 cm, dan usia tanam 95-105 hari. Penemuan bibit padi ini juga disertai dengan pupuk cair organik. Melalui pola tanam semi SRI (System Rice Intensification) bibit padi dan pupuk ini dalam 1 ha rata-rata mencapai produktifitas 8 sd 10 ton.
Pada kesempatan tersebut, Panglima TNI menyambut dengan baik upaya yang telah dilaksanakan oleh kelompok tani ini dalam rangka turut serta mengatasi permasalahan pangan nasional. Panglima TNI juga mengatakan bahwa kebijakan ketahanan pangan menjadi isu sentral dalam pembangunan serta merupakan fokus utama dalam perkembangan pertanian, karena pemenuhan kebutuhan pangan merupakan hal mendasar bagi umat manusia untuk dapat mempertahankan hidupnya.
Permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan yang dihadapi saat ini, dikarenakan pertumbuhan permintaan pangan lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Permintaan yang cepat tersebut sebagai dampak dari peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat dan perubahan selera atau pola konsumsi. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan permintaan dan kapasitas produksi nasional mengakibatkan adanya kecenderungan penyediaan pangan nasional melalui impor dari negara lain yang menyebabkan menurunnya permintaan bahan pangan dari dalam negeri. (red)
(Sumber berita Puspen TNI/Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl Ir. Minulyo Suprapto, MSc, MSi, MA).
:

