Surabaya (KN) – Kebijakan Gubernur Jawa Timur dalam sistem penguatan ekonomi wilayah Provinsi Jawa Timur dengan memfokuskan dibidang tembakau dan gula dipandang sangat tepat, hal itu karena kondisi kewilayahan Jawa Timur mayoritas berpotensi perkebunan dan areal tebu (gula). Karena itu, perlu adanya revitalisasi yang akurat agar lebih mantap sebagai penyanggah kebutuhan, khususnya dalam negeri.
Pengamat tembakau, Ir H Guntaryo Tri Indarto Msi, Senin (6/6) mengatakan, saat ini sektor perkebunan khususnya tembakau mampu memberikan sumbangan devisa negara berupa cukai sebesar Rp 53 Triliun yang merupakan angka terbesar daripada devisa-devisa lainnya. Selain itu, Jawa Timur memilki potensi areal tebu yang ada dibawah naungan PTPN X juga sebagai penyangga pergulaan nasional yang mampu menjaga stabilisasi harga dan stok gula secara nasional.
Dari dua komoditas unggulan Jawa Timur, khususnya gula telah dilakukan revitalisasi oleh pemerintah beberapa waktu lalu. Namun untuk komoditas tembakau di rencanakan oleh Pemerintah Provinisi Jawa Timur pada tahun ini yang akan diperdakan. Bahkan, saat inipun tengah disusun oleh tim ahli yang bertujuan untuk meningkatkan peran dari para perusahaan-perusahaan tembakau dalam meningkatkan perekonomian Jawa Timur secara makro.
Sementara itu di Jawa Timur memiliki banyak perusahaan-perusahaan rokok dan tembakau skala nasional yang produksinya dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan sampai ke luar negeri seperti dari kabupaten Kediri, Malang, Tulung Agung, Jelbuk Jember, Bojonegoro dan beberapa kabupaten lain yang memiliki potensi cukup membanggakan dibidang pertembakauan.
Dengan program revitalisasi komoditas tembakau, yang jelas akan mendorong sekaligus menstimulan para pelaku pertembakauan khususnya para petani di Jawa Timur, khususnsya sentra tembakau diantaranya kabupaten Jember untuk lebih bangkit dan memperbesar produksi dan meningkatkan kualitasnya. Sehingga akan menjaga citra Indonesia di market dunia yang tidak akan kalah bersaing dengan negara-negara lain. (yok)