KORAN NUSANTARA
ekbis indeks

Kadin Bersama Pemprov Jatim Gagas Bursa Potensi Ekonomi dan UKM

LOGO KADINSurabaya (KN)- Pemerintah Provinsi Jatim berencana membentuk bursa komoditas. Ketua Komite Tetap Lembaga Keuangan dan Perbankan Syariah Kadin Jatim, Imron Mawardi mengatakan, langkah pembentukan bursa ini ditujukan untuk memfasilitasi antara produsen dan konsumen sehingga bisa melakukan transaksi secara langsung dengan standar yang telah ditentukan, mulai dari standar harga hingga standar kualitas komoditas yang diperjualbelikan. Diperkirakan, realisasinya terlaksana akhir tahun 2011 nanti.
Dalam acara Facus Group Discussion Kelembagaan Bursa Potensi Ekonomi dan UKM di Jawa Timur yang digagas Pemprov bersama Kadin Jatim di Hotel Sahid, Surabaya, Kamis (7/4). Imron mengatakan, Jatim adalah provinsi yang memiliki banyak komoditi agribisnis andalan yang bisa diperjualbelikan di bursa berjangka. Ketika komoditas ini bisa difasilitasi melalui lembaga tersebut, besar kemungkinan akan mampu mengerek tingkat kesejahteraan petani.
Ia menambahkan, melalui transaksi di pasar komoditas dipastikan akan terbentuk transparasi harga, sehingga disparitas harga antara produsen dalam hal ini petani dan konsumen tidak akan terlalu besar. “Mekanisme dalam pasar komoditas harus ada transparansi harga. Sehingga disparitas harga antara produsen dan konsumen tidak terlalu besar dan petani bisa menikmati keuntungan yang lebih besar,” ungkapnya.
Adapun beberapa komoditas yang dimungkinkan bisa diperjualbelikan di antaranya kopi, kakao, karet, beras, jagung dan kedelai, karena komoditas-komoditas tersebut telah menjadi komoditas andalan di Jatim. “Kalau dalam tahap awal, mungkin tiga komoditas dulu, yaitu beras jagung dan kopi. Selanjutnya bisa direalisasikan untuk komoditas lainnya,” katanya.
Hal yang sama diutarakan oleh Kasubid Industri dan Perdagangan (Indag) dan PDU Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jatim, Arief Tri H.  Ditegaskanya, langkah pembentukan bursa komoditas ini memang sangat diperlukan, karena Jatim tidak bisa menampik kemajuan sistem.
“Saya kira ini sangat berbeda konsepnya dengan pasar lelang, beda segmen yang dibidik. Kami selalu support semua sistem yang bisa berikan kemanfaatan. Namun yang harus dipahami, ini masih sangat awal, masih dalam bingkai wacana dan masih banyak Kerjasama yang harus dilaksanakan jika memang benar-benar dilaksanakan, seperti dengan Jamkrida,” ungkap Arief.
Terkait adanya broker yang selalu bermain di bursa, ia menyatakan bisa saja dihilangkan atau tidak menggunakan broker dalam pelaksanaan di pasar komoditas ini, karena dimungkinkan akan terjadi margin bagi mereka.
“Intinya kita bermaksud meminimalisasi disparitas harga antara petani dan konsumen, jadi ketika keberadaan broker dipastikan malah akan menggerus margin petani, bisa saja broker ini ditiadakan,” tandasnya.(ms)

Related posts

Arya Sinulingga ungkap Surat Menteri BUMN pada Menteri ESDM soal PLN

Pansus DPRD Surabaya Dukung Pemkot Bebaskan PBB Veteran

kornus

Gandeng ITS, ITB dan UGM, Balitbanghub Rumuskan Transportasi Modern di Jatim