Jakarta, mediakorannusantara.com– Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya kemampuan “membaca tanda-tanda zaman” sebagai kunci menghadapi gelombang besar perubahan dan disrupsi global.
Pesan ini disampaikannya saat menjadi pembicara utama (keynote speaker) pada Pertemuan dan Konsolidasi Regional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) se-Sulawesi di Makassar, Minggu.
Nasihat Guru dan ‘The Great Wave’
Bima Arya mengungkapkan bahwa nasihat tentang pentingnya membaca tanda-tanda zaman telah lama ia pegang teguh, sering ia dengar dari para senior KAHMI serta cendekiawan seperti Nurcholish Madjid dan Amien Rais.
”Siapa pun yang mampu membaca tanda-tanda zaman dengan baik akan menjadi pemenang,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan buku berjudul The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya Michiko Kakutani. Bima secara khusus menyoroti sampul buku yang menampilkan karya seni Jepang abad ke-19, The Great Wave off Kanagawa.
”Gambar perahu nelayan kecil yang diterjang gelombang raksasa… melambangkan perpaduan antara tantangan, keganasan, dan ketenangan. Ini adalah skill untuk selalu waspada dalam era perubahan,” jelasnya.
Menurut Kakutani, dunia kini berada di era disrupsi radikal (radical disruption) dan kebangkitan pihak luar (the rise of the outsider).
Kebangkitan ‘Outsider’ dan Pergeseran Kekuatan Global
Bima Arya memperingatkan masyarakat Indonesia agar tidak terpesona pada hal-hal yang sudah mapan (established), sebab disrupsi justru sering datang dari arah tak terduga.
Ia mencontohkan kebangkitan figur politik seperti Donald Trump di Amerika Serikat dan Volodymyr Zelenskyy di Ukraina, yang berhasil menjadi pemimpin meskipun tidak berasal dari sistem politik konvensional. Fenomena serupa juga terjadi di dunia hiburan, di mana dominasi Hollywood mulai tersaingi oleh film, musik, dan budaya dari Korea, China, India, hingga Afrika.
”Marilah kita telaah The Great Wave ini sebagai bahan untuk merefleksi perjalanan bangsa dalam membaca tanda-tanda zaman,” ajaknya. “Bergeserlah episentrum dunia ke Asia hari ini.”
Mengutip Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations, Bima mengingatkan bahwa pergeseran tatanan dunia dari unipolar ke multipolar semakin menekankan pentingnya kemampuan membaca tanda-tanda perubahan ini.
Inovasi Berkarakter dan Kepemimpinan Transformatif
Dalam konteks perenungan strategi bangsa ke depan, Bima menyoroti keberhasilan China yang dalam 40 tahun mampu mengangkat 800 juta penduduk dari kemiskinan melalui kombinasi pemerintahan yang sangat efektif dan inovasi tanpa henti.
”Tagline yang mereka sering sampaikan, innovation with China’s characteristics. Inovasi berjalan, tapi karakter kultur Cinanya tetap menonjol,” tuturnya.
Terakhir, Bima mengajak seluruh peserta KAHMI untuk berperan aktif dalam melahirkan tokoh-tokoh transformatif yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang didasarkan pada nilai, bukan kepentingan.
”Negara ini harus dibimbing dan selalu dijaga oleh tokoh-tokoh transformatif. Memimpin dengan nilai dan bukan dengan kepentingan. Mari kita ajak adik-adik kita untuk menjadi sosok-sosok transformatif,” tutup Bima Arya. ( wa/ar)
