Surabaya (KN) – Kerjasama Green Sister City antara kota Surabaya dengan Kitakyushu, Jepang, telah menghasilkan berbagai dampak positif di bidang pengelolaan lingkungan. Super depo Sutorejo yang mulai beroperasi 8 Maret tahun 2013 lalu, merupakan salah satu bentuk nyata. Kini, kerjasama lingkungan tersebut mulai merambah ke sektor industri.Delegasi Pemerintah Kota Kitakyushu, Senin (22/4/2013) pagi, melakukan kunjungan ke balai kota. Rombongan yang terdiri atas tiga orang pejabat Pemkot Kitakyushu dan beberapa staf perusahaan Jepang itu diterima Walikota Surabaya Tri Rismaharini di ruang kerjanya. Para pejabat Kitakyushu yang nampak hadir diantaranya Direktur Eksekutif Biro Lingkungan Hidup Kengo Ishida, serta Naoki Motoshima dan Takayuki Yamashita yang masing-masing selaku direktur dan manajer Biro Lingkungan Hidup.
Maksud kedatangan mereka adalah untuk memaparkan konsep kerjasama proyek yang dinamai KS2 (Kitakyushu & Surabaya Smart Community). Usai diterima wali kota, delegasi yang berjumlah delapan orang itu langsung menjelaskan implementasi KS2 tersebut di hadapan SKPD terkait dan perwakilan PT. SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut).
Dari hasil paparan, dapat disimpulkan bahwa KS2 merupakan powerplan atau proyek pembangkit energi yang digunakan di kawasan industri. Manajer Eksekutif NTT Data Institute of Management Consulting. Motoshi Muraoka mengatakan, pihaknya mengusung metode Co-Generation System yang lebih ramah lingkungan karena berbahan gas. Berbeda dengan sistem konvensional yang kebanyakan masih menggunakan solar sebagai bahan bakar.
Masih menurut Muraoka, keunggulan lain dari sistem energi industri ini yakni mampu menghasilkan listrik dan uap. Kedua elemen itu bisa dijual atau dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan operasional pabrik. Hal tersebut jelas membawa dampak ekonomis karena lebih hemat dan efisien. “Uap yang dihasilkan bisa sampai 37 ton per jam, serta untuk listrik bisa mencapai 18 mega watt,” terangnya.
Sementara Kabag Kerjasama Pemkot Surabaya Ifron Hady menyatakan bahwa paparan proyek kerjasama KS2 masih dalam tahap awal, yakni penjajakan. Jika tak ada kendala berarti, proyek pembangkit energi bagi industri tersebut akan dibangun di kawasan SIER dengan luas lahan sekitar 1 hektare. Sedangkan soal pelaksanaan, Ifron mengatakan, pihak Kitakyushu berharap pembangunan bisa dilakukan tahun ini.
Sejarah kerjasama Surabaya dengan Kitakyushu dimulai sejak tahun 2000 dengan fokus pada bidang pengelolaan lingkungan. Pada 2008, arah kerjasama bergeser ke masalah penanganan sungai. Dalam hal ini secara khusus yang dimaksud adalah revitalisasi Kalimas. Saat itu, misi utamanya dengan mengembangkan program instalasi sampah cair. Jadi, limbah rumah tangga tidak langsung dibuang ke sungai, melainkan diolah terlebih dahulu.
“Sehingga hasilnya bisa dipakai untuk menyiram tanaman dan mencuci sepeda motor, seperti yang ada di Jambangan. Dan itu berhasil sampai sekarang serta dijadikan percontohan bagi daerah lain,” kata Ifron.
Saat ini, lingkup kerjasama dengan Kitakyushu mulai mengembang ke sektor-sektor lainnya. Bahkan mulai menyentuh bidang industri. Itu masuk bagian dari poin Green Sister City perihal masyarakat rendah karbon.
“Kalau proyek ini jadi dilaksanakan, tentunya itu sejalan dengan komitmen utama kerjasama ini. Pabrik-pabrik di Surabaya menjadi lebih ramah lingkungan, kualitas udara juga lebih bagus. Itu dambaan kita bersama,” ujarnya. (anto)
Foto : Delegasi Kitakyushu, Jepang saat pemamapan di ruang kera Walikota Surabaya, Senin (22/4/2013)
