Surabaya (KN) – Pengurus Wilayah Nahdlotul Ulama (PWNU) Jatim bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang membentuk tim pencari fakta (TPF).Tim tersebut bertugas mengumpulkan fakta, data dan informasi dari kelompok Sunni maupun Syiah, yang hasilnya nanti akan disampaikan ke aparat penegak hukum dan PBNU.
“Sehingga hasilnya nanti dapat menjadi referensi lahirnya sebuah resolusi konflik yang lebih komprehensip. Dan penyelesaiannya yang secara damai dan penuh kekeluargaan akan menjadi acuan para Ulama di Sampang,” ujar Wakil Ketua PCNU Sampang, Nuruddin JC, Selasa (28/8).
Dalam laporannya ke PWNU Jatim, pasca terjadi bentrokan antara dua kelompok dari Sunni dan Syiah, PCNU Sampang telah mengumpulkan data dan informasi dari lapangan. Dari hasil data sementara, bentrokan yang terjadi kedua kali sebelumnya terjadi Desember 2011 lalu, yang memakan korban jiwa dan luka-luka, diduga dipicu letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Bahkan, suara letusan bom tersebut terdengar hingga radius 1 Km.
Mendengar suara letusan bom, tanpa dikomando ribuan massa sekitar TKP, termasuk warga di desa di dekatnya menuju lokasi, sambil membawa senjata apa adanya. Ternyata di lokasi sudah ditemukan banyak jatuh korban ledakan bom. Karena situasi makin tidak terkendali, bentrokan pun tak terhindarkan. Mereka saling serang dengan sajam, bebatuan, kayu hingga bom molotov. “Korban luka selain terkena sabetan celurit, juga terkena letusan bom rakitan,” katanya.
Ia menerangkan, awalnya kelompok anti Syiah berdemo secara damai dan tidak membawa sajam. Namun demo tersebut disikapi secara keras oleh kelompok Syiah dengan mengacungkan celurit dan pedang. Bahkan, ada kelompok Sunni ada yang terkena bom rakitan.
“Jadi tidak benar yang menyerang hanya satu pihak. Kami tidak ingin melindungi siapapun. Itu temuan kami di lapangan,” terangnya.
Temuan sementara itu masih akan diperdalam lagi dengan terbentuknya TPF PCNU Sampang dan PWNU Jatim. Nuruddin menegaskan, persoalan hukum tetap diserahkan ke pihak Kepolisian. Namun, pihaknya berharap polisi bersikap netral dan adil.
“NU berharap polisi bertindak secara adil dan bijak dengan lebih mengedepankan dialog untuk perdamaian dan menjaga kondisi kondusif di Kabupaten Sampang. Apalagi ini menjelang pelaksanaan Pilkada Sampang pada Desember mendatang,” jelasnya, sambil menambahkan NU akan mengadvokasi warganya yang tidak bersalah dan ikut menjadi korban. (red)
