KORAN NUSANTARA
indeks Surabaya

Komisi B : PD Pasar Jangan Hanya Bisa Jual Stand

M MachmudSurabaya (KN) – Banyak pasar di Surabaya, khususnya pasar tradisional, kondisinya semakin sepi. Bahkan, ada beberapa pasar tradisional yang terpaksa tutup. Semakin sepinya pasar tradisional bukan semata-mata karena kian menjamurnya minimarket-minimarket atau pasar modern lainnya.
Namun sepinya pasar tradisional dikarenakan juga karena buruknya pengelolaan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya Kota Surabaya terhadap pasar-pasar itu.

Dari pengamatan yang dilakukan oleh DPRD Surabaya, selama ini jajaran direksi PD Pasar Surya hanya sebatas melakukan pembangunan pasar dan menjual stand kepada masyarakat. Sedangkan program untuk meramaikan pasar itu sendiri masih sangat minim. “PD Pasar jangan hanya bisa menjual stand, tetapi juga harus bisa meramaikan,” kata Ketua Komisi B DPRD Surabaya Mochammad Machmud.

Kendati hanya sebatas melakukan penjualan stand, banyak stand yang kondisinya justru semakin memprihatinkan pasca-dimiliki pedagang. Kondisi stand semakin tidak terawat, dan ada beberapa stand yang sengaja digunakan untuk gudang oleh pemiliknya. Salah satu contohnya, kondisi Pasar Rungkut Baru Surabaya. Pasca penjualan stand, pihak PD Pasar Surya meninggalkannya begitu saja dan hanya memberikan seorang sebagai Kepala Pasar yang sama sekali tidak mengerti tentang pasar.

Mestinya, PD Pasar Surya mempunyai aturan main atas penjualan stand kepada pedagang. Misalnya, menerapkan aturan jika pedagang tidak membuka standnya selama satu bulan akan dilakukan penyegelan. Kemudian penyegelan bisa berujung pada pengambilalihan paksa apabila pedagang tak kunjung membuka standnya. “Harus ada aturan itu, sehingga tidak banyak pasar yang tutup. Laku tidak laku yang penting harus buka dulu. Sehingga ada kehidupan di pasar,” ungkapnya.

Bila dicermati, pasar di Surabaya mempunyai perbedaan dengan pasar-pasar di kota lain pada umumnya. Ada sejumlah pasar yang mempunyai ciri khas tertentu, dan itu tidak ditemukan kota lain. Diantaranya, Pasar Genteng yang identik dengan pasar elektronik, Pasar Bendul Merisi yang identik dengan pasar beras, Pasar Kapasan yang identik dengan pasar kain dan sebagainya. Karakter atau ciri khas masing-masing pasar itulah yang perlu dipertahankan.

Machmud menerangkan, salah satu ukuran keberhasilan PD Pasar Surya adalah bisa meramaikan pasar. Tapi faktanya, selama ini keberhasilan PD Pasar hanya diukur dari besarnya deviden yang disetor kepada Pemkot Surabaya. Misalnya, dari target pemasukan Rp1,5 miliar dan PD Pasar  bisa setor Rp1,56 miliar, maka sudah dianggap berhasil. “Pemkot sendiri ketika setoran tinggi maka dianggap berhasil. Padahal bukan itu ukurannya, tapi harus bisa ramai,” tegasnya.

Bila hanya setoran yang dijadikan tolak ukur keberhasilan, maka bisa mendorong pihak PD Pasar untuk menghalalkan segala cara.
“Ukuran keberhasilan mampu meramaikan pasar. Tidak hanya setor deviden lalu dikatakan kinerja baik. Lebih baik tidak setor yang penting pasar ramai,” ujarnya.

Kira-kira apa yang harus menjadi evaluasi? Menurut Machmud, jajaran direksi PD Pasar belum memiliki jiwa enterprenuer. Perlu adanya perubahan karakter di jajaran direksi untuk bisa meramaikan pasar di Surabaya. “Kalau hanya menjual stand jangan PD pasar, makelar cukup,” cetusnya.

Jika pasar tradisional di Surabaya bisa ramai, yang diuntungkan bukan hanya pedagang. Tapi juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan bisa mengurangi tingkat penggangguran. “Dampaknya bagi masyarakat jika pasar ramai, pertumbuhan ekonomi disekitar pasar meningkat, pedagang lebih makmur, pendapatan PD Pasar membaik dan penggangguran berkurang,” terangnya.
Sementera itu, pasar yang segera mendapatkan penanganan khusus karena kondisnya sepi diantaranya Pasar Tambahrejo, Pasar Tunjungan, Pasar Pakis dan sejumlah pasar lainnya. (Jack)

Foto : Muchamad Machmud Ketua Komisi B DPRD Surabaya

Related posts

Gubernur Khofifah Dukung Penuh Perubahan Status IAIN Madura Menjadi UIN

kornus

Ketua DPRD Surabaya Minta Pemkot Transparan Soal Rencana Pembangunan AMC

kornus

Tiap Hari, Kampung Kue Surabaya Raup 15 Juta

kornus