KORAN NUSANTARA
ekbis indeks

Industri Rokok Di Jatim Berikan Kontribusi Nasional Rp 30 Triliun

Surabaya (KN)- Setiap tahunya Industri rokok di Jawa Timur memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional sekitar Rp 30 triliun. Dengan pemasukan yang cukup besar ini, industri rokok di Jatim ikut adil dalam kemajuan pembangunan di Indonesia.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat Launching Bedah Buku “Siapa Bilang Merokok Harom” karya Dr HM Nazim Fauzi di Shangri-La Hotel Surabaya, Rabu (2/2) mengatakan, yang penting soal merokok adalah yang merokok jangan menggangu orang yang tidak merokok. Karena kontribusi industri rokok cukup besar terhadap pendapatan pemerintah, maka pemerintah diharapkan membangun dan memperbanyak area khusus merokok di tempat umum. Dengan dibangunnya tempat merokok yang di tempat-tempat umum akan membantu program jangan merokok di tempat-tempat umum.

Kemudian persoalan haram dan halalnya merokok, serahkan pada ahlinya, jangan sampai yang bukan ahlinya menafsirkan merokok itu haram atau halal. Soal haram dan halal serta mengganggu kesehatan jika merokok diperlukan penelitian dan didiskusikan terlebih dahulu. Karena merokok ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Timur.  Dan Selanjutnya sekali lagi soal rokok ini hukumnya tidak jelas, maka perlu didiskusikan oleh para ahlinya baik dari tokoh agama dan ahli kesehatan.

Gus Ipul mencotohkan, ada sebagai orang yang merokok sejak kecil tapi tambah sehat, tetapi ada orang yang tidak merokok malah sakit-sakitan. Oleh sebab itu dengan adanya bedah buku “ Siapa Bilang Merokok Harom” sangat menarik karena buku ini ditulis oleh orang yang tidak merokok.

Sementara Ketua koperasi Agrobisnis Taruna Nusantara sekaligus panitia bedah buku, Abdul Khahar Muzakir mengatakan, karena ditulis berkesinambungan oleh berbagai media dan fatwa dari dari elemen masyarakat bahwa “merokok itu haram” itu perlu diluruskan, karena hal ini berhubungan dengan masyarakat.

Larangan-larangan tersebut disinyalir ditulis oleh sebagian masyarakat yang anti merokok. Jika ditinjau dari aspeknya ada tiga hal. Yang pertama aspek bisnis ada pergulatan bisnis farmasi. Kemudian merokok dilihat dari aspek kesehatan, apakah merokok itu bisa menyebabkan orang sakit dan aspek agama. Apakah agama mengharamkan merokok atau merokok hukumnya mubah. Itulah aspek-apek yang masih perlu dibicarakan, yang jelas larangan merokok itu karena ada persaingan bisnis.

Menurut data dari tanaman tembakau di Indonesia yang luasnya 210 ribu hektare dengan produksi sekitar 150 ribu ton, sedangkan kebutuhkan tembakau di Indonesia setiap tahunnya 205 ribu ton. Kemudian luas tanaman tembakau di Jawa Timur mencapai 110 ribu hektare dengan jumlah produksi 83 ribu ton per tahunnya.  Sementara pada 2010 secara nasional pendapatan pemerintah dari hasil cukai rokok sekitar Rp 60 triliun.

Sementara penulis buku “Siapa Bilang Merokok Itu Harom“ Dr HM Nazim Fauzi mengatakan, kesimpulan dalam penulisan buku ini adalah larangan merokok pada dasarnya perang bisnis. Dalil kesehatan dan agama yang dipakai oleh para anti rokok terbukti hanyalah retorika yang sebenarnya jauh dari fakta. Dari pada alasan kesehatan dan agama, menurutnya larangan merokok ini lebih rasional bila diletakan pada persaingan bisnis global. Persaingan bisnis global tersebut dengan mengambil kasus perang minyak kelapa dan minyak goreng di Amerika.(red)

Related posts

Menpan : Pelayanan Publik Jangan Dijadikan Mesin Uang

kornus

Kasus Pemukulan Erick, WW Tolak Campur Tangan Walikota

kornus

Gencar Sosialisasikan Protokol Kesehatan, Sebanyak 33 Kelurahan di Surabaya Nol Kasus Covid-19

kornus