Anggota Komisi E DPRD Jatim, dr Benjamin Kristianto.
Surabaya (mediakorannusantara.com) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, dr Benjamin Kristianto, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan.
Menurutnya, virus tersebut bukan penyakit baru, melainkan sudah lama dikenal dan penularannya berkaitan dengan tikus sebagai media penyebaran.
“Jadi kita dengar beberapa hari ini ada berita tentang virus. Jadi virus itu sebenarnya bukan virus yang baru terjadi, tapi virus itu memang sudah ada sejak dulu,” ujar dr Benjamin di Gedung DPRD Jatim, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, hantavirus menjadi sorotan setelah dikaitkan dengan kasus penularan di kapal pesiar yang berada di Indonesia. Menurutnya, hal itu menarik perhatian publik karena kapal pesiar identik dengan fasilitas mewah. “Kenapa kok kapal mewah bisa menularkan suatu penyakit jadi ramai,” katanya.
Benjamin menerangkan, hantavirus berasal dari luar negeri dan penyebarannya melalui tikus. Ia membandingkan penyakit tersebut dengan leptospirosis yang juga ditularkan melalui tikus, meski berbeda jenis penyebab penyakitnya. “Kalau ini (hantavirus) virus, menularnya sama, melalui tikus medianya,” jelasnya.
Ia menyebut, penularan hantavirus dapat terjadi ketika kencing, ludah, atau bekas gigitan tikus mengenai makanan yang kemudian dikonsumsi manusia.
“Hanya sebagian kecil misalnya dari roti dia gigit sedikit saja, nah ludahnya dan kencingnya itu yang menular masuk ke makanan lalu kita makan terjadilah kita penularan hantavirus,” ucap dia.
Benjamin menambahkan, hantavirus dapat menyerang dua organ penting, yakni paru-paru dan ginjal. Karena menyerang paru-paru, penyakit ini sempat dianggap mirip Covid-19, meski mekanisme penularannya berbeda.
“Kalau covid kan kita menularnya melalui udara gitu kan, nah tapi kalau ini medianya adalah tikus, hantavirus ini,” katanya.
Ia menjelaskan, hantavirus yang menyerang paru-paru dikenal sebagai Hantavirus pulmonary syndrome (HPS), sedangkan yang menyerang ginjal disebut Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS).
“Nah dia menyerang ada seperti demam berdarah berarti dia ada perdarahan hemorrhagic panas dengan perdarahan tapi disertai dengan gangguan pada ginjalnya. Nah, itulah yang harus dihati-hati,” terangnya.
Terkait pencegahan, Benjamin meminta masyarakat menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk tempat usaha kuliner seperti restoran dan kafe.
“Jadi pencegahannya teman-teman harus berusaha menjaga kebersihan di rumahnya masing-masing. Juga harus mencegah juga yang punya kuliner, yang punya bisnis kuliner, restoran, kafe, yang berhubungan makanan,” paparnya.
Ia mengingatkan agar sisa makanan tidak dibiarkan menumpuk karena dapat mengundang tikus. “Jangan sampai ada sisa-sisa makanan yang akhirnya berkumpul-lah tikus-tikus tersebut dan tikus-tikus tersebut akhirnya masuk kemana-mana menyerang daripada kita ya, jadi media penularan virus itu,” ujarnya.
Mengenai proses penyembuhan, Benjamin mengatakan kondisi pasien sangat bergantung pada daya tahan tubuh dan tingkat komplikasi yang dialami. “Kalau kita daya tahannya kuat segala macam, penyembuhannya cepat,” tambah dia.
Namun, apabila infeksi sudah menyebabkan kerusakan ginjal, maka penanganannya menjadi lebih kompleks. “Berarti kan pengobatannya tidak sebatas virusnya, tetapi hemodialisa, cuci darah, dan berbagai macam gitu. Karena ginjalnya sudah terkepalang rusak,” jelasnya.
Ia kembali menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah untuk mencegah tikus datang dan berkembang biak di lingkungan tempat tinggal.
“Kalau semuanya bersih setelah makan dibuang sampah, sampahnya itu diikat, ditaruh di luar rumah, dibuang di tong sampah. Ndak mungkin kan ada tikus kalau kita bisa jaga kebersihan tadi,” pungkas Benjamin. (KN01)
