Surabaya (KN) – Anggota Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) mendapat pengalaman berharga dalam diklat Japan Paramedical Rescue (JPR). Pasalnya, mereka memperoleh ilmu langsung dari dua pakar penanggulangan bencana asal Jepang. Yakni, Chairman of JPR, Kiyoshi Masai dan Vice Chairman of JPR, Masaru Harima.
Pelatihan digelar di Gedung Diklat PMK Jl Margomulyo Surabaya pada Senin (16/9/2013), dan akan berlangsung selama tiga hari. Sedangkan 30 peserta yang dari unsur instansi Pemkot Surabaya, Kepolisian serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Dijelaskan Masai, kedatangannya kali ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang pernah dilaksanakan pada 2009. Bedanya, jika pada 2009 peserta lebih banyak dihadapkan pada teori dan praktik simulasi, pada diklat sekarang sifatnya hanya me-refresh apa yang sudah didapat dan diterapkan selama ini.
“Secara konsep akan dikemas dalam bentuk game koordinasi penanganan bencana. Meski hanya bersifat imajinatif, tapi poin pentingnya adalah untuk melatih kesigapan ketika menghadapi bencana berskala besar yang belum pernah terjadi,” ungkap pakar yang telah malang-melintang di sejumlah negara asia ini.
Pernyataan Masai itu diamini oleh Kepala Dinas Kebakaran Kota Surabaya, Chandra Oratmangun. Menurut dia, kendati Surabaya tidak punya potensi bencana alam besar, seperti gunung berapi maupun hantaman tsunami, namun kesigapan petugas tetap diperlukan setiap saat.
Diakui Chandra, diklat semacam ini sangat membantu PMK dan Satlak PB dalam hal peningkatan kemampuan. Ketika menghadapi bencana diperlukan ketenangan dan kematangan skill. Namun, kepanikan justru acap kali membayangi saat proses penanganan bencana.
“Nah, para pakar dari Jepang ini mengajarkan kepada kami bagaimana menyinkronkan masing-masing dinas dan instansi yang punya tupoksi berbeda. Dan sejak pelatihan pada 2009 terlihat sekali hasilnya sekarang lebih solid dalam koordinasi,” terangnya. (anto)
