KORAN NUSANTARA
Hallo Nusantara

Akhirnya, Surabaya Punya Jalan Soekarno-Hatta

Surabaya – Hilang sudah ironi Kota Pahlawan tanpa Nama Soekarno Hatta. DPRD Surabaya secara resmi menyetujui digunakannya nama Presiden dan Wakil Presiden pertam RI tersebut dalam rapat paripurna, Senin (19/4/2010).

Dengan demikian bertambah pula nama pahlawan yang diabadikan sebagai nama jalan di Surabaya. Dari total 159 nama pahlawan yang terdiri dari 109 Pahlawan Nasional dan 50 pahlawan lokal yang terdaftar oleh Pemerintah RI, Kota Pahlawan ini hanya mengabadikan 39 saja. Yaitu 29 pahlawan nasional dan 10 pahlawan lokal yang semuanya dijadikan nama jalan.

Namun jumlah itu kini berubah menjadi 40 nama, 30 pahlawan nasional dan 10 pahlawan lokal. Jalan Soekarno-Hatta ini menghubungkan Jl. Kenjeran dengan Jl. Arief Rahman Hakim dengan panjang 4,206 km.

Memang, lebih baik terlambat daripada tidak ada sama sekali. Sebagai perbandingan saja, nama jalan Bung Tomo dipakai jauh sebelum Bung Tomo sendiri resmi menjadi pahlawan nasional.

Sebagai kota yang berjuluk Kota Pahlawan, hawa kepahlawanan memang belum begitu terbau di Surabaya ini. Patung, monumen maupun tetenger yang bertebaran di Surabaya malah banyak yang bukan pahlawan, tapi tokoh rekayasa atau tokoh imajiner sang seniman. Lihat saja patung karapan sapi yang berada di pusat kota.

Pertengahan 2008 lalu, teman saya, Taufik Monyong, pernah mencetuskan ide agar di setiap nama jalan dibangun patung sesuai dengan nama jalan tersebut. Saya gak tahu persis apakah itu ide orisinilnya atau menyadur dari yang lainnya. Tapi dia siap mengajak sejumlah seniman patung untuk mengerjakannya. Tanpa bantuan uang sepeserpun dari Pemkot Surabaya.

Dua tahun kemudian saya juga mendengar ide serupa dari teman saya Yusuf Husni atau biasa disapa Cak Ucup. Malah dia berangan-angan jika Surabaya ini bisa menjadi kota Roma Italia, yang banyak sekali patung bertaburan di berbagai sudut kota.

“Saya ini anak pejuang, tapi ketika saya masuk Surabaya, hawa pahlawan ini kok tidak terasa, beda ketika saya ke Yogya atau ke Bali, begitu masuk kota tersebut langsung terasa hawa kota itu, kenapa Surabaya tidak,” kata Cak Ucup.

Saya sepakat, Surabaya harus punya ciri khas Suro dan Boyo, tapi Surabaya juga harus punya ciri khas patung atau monumen kepahlawanan agar layak disebut Kota Pahlawan. Bahkan kalau perlu, nama jalan yang mengabadikan nama Pahlawan juga harus diperbanyak.

Piye Cak?
Akhirnya, Surabaya punya juga nama jalan Soekarno-Hatta.

penulis : masakgos

Related posts

Polemik Dewan Bagaikan Panggung Sandiwara

kornus

Ketum Yht : Siap motori mutu Pendidikan Berkualitas

Menag Ingin KUA tidak Sekedar Kantor Urusan Asmara