
Jakarta, mediakorannusantara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra peneliti berhasil mendokumentasikan sepuluh rekaman spesies anggrek baru di Indonesia untuk memperluas data sekaligus menegaskan pentingnya eksplorasi biodiversitas dan kajian herbarium dalam mendukung konservasi flora Indonesia, Senin (11/5/2026).
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Aninda Retno Utami Wibowo, menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia, masih menyimpan banyak potensi keanekaragaman anggrek yang belum terdokumentasi.
Aninda Retno Utami Wibowo menegaskan bahwa eksplorasi lapangan dan kajian koleksi herbarium perlu terus diperkuat untuk memperkaya data biodiversitas nasional dalam keterangan resmi di Jakarta.
Dalam penelitian ini terdapat sejumlah tim peneliti yang terlibat antara lain Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Universitas Samudra, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Tim mendokumentasikan sepuluh spesies anggrek yang baru tercatat di Indonesia, yaitu Bulbophyllum nematocaulon, Bulbophyllum sanguineomaculatum, Cleisomeria lanatum, Corybas calopeplos, dan Corybas holttumii dari Sumatra.
Ditemukan pula spesies Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus dari Jawa, Dendrobium teretifolium dari Kepulauan Nusa Tenggara, Bulbophyllum thiurum dari Kalimantan, serta Aerides augustiana dari Sulawesi.
Penelitian dilakukan melalui eksplorasi lapangan oleh Yuda Rehata Yudistira dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, serta Wendy A. Mustaqim dari Departemen Biologi Universitas Samudra pada periode 2020 hingga 2024 di berbagai wilayah Indonesia.
Aninda Retno Utami Wibowo mengatakan bahwa tim peneliti melakukan pengambilan spesimen, dokumentasi morfologi, pengawetan herbarium, serta analisis perbandingan dengan koleksi herbarium nasional dan internasional.
Beberapa spesies yang ditemukan juga menunjukkan pola persebaran yang menarik secara biogeografi, seperti Anoectochilus papuanus yang sebelumnya tersebar di Papua dan Kepulauan Solomon kini ditemukan di Jawa Timur.
Sementara itu, spesies Dendrobium teretifolium yang sebelumnya diketahui berasal dari Australia, saat ini telah ditemukan keberadaannya di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Aninda Retno Utami Wibowo berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penting bagi upaya konservasi flora Indonesia, terutama di kawasan yang masih kurang tereksplorasi.
Dokumentasi spesies yang akurat diperlukan untuk mendukung perlindungan habitat serta penguatan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah.
Hasil penelitian tersebut kini telah dipublikasikan dalam jurnal Lankesteriana Volume 26 (1) Tahun 2026 melalui artikel berjudul “Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago”.(wa/an)
