KORAN NUSANTARA
indeks Surabaya

Suasa DPRD Surabaya Semakin Kacau, Plt Sekwan Berani Melawan Anggota Dewan dan Menolak Wakil Ketua Dewan

DPRD_SurabayaSurabaya (KN) – Suasana di DPRD Surabaya semakin kacau. Kekacauan di lembaga wakil rakyat ini paska pemeriksaan dugaankorupsi Bimtek oleh Polrestabes  Surabaya dan yang juga diawali oleh sikap WW agar seluruh anggota dewan tanda tangan surat pernyataan sebelum melakukan perjalanan dinas. Sikap Ketua DPRD Surabaya Wisnu Wardhana itulah yang semakin memicu suasana panas di dewan.
Ironisnya lagi, Plt Sekretaris dewan Hari Sulistyawati diduga telah ikut terperangkap untuk berpolitik, dan berani melawan anggota dewan. Hari Sulityawati mulai berani ngotot dan berdebat keras dengan Ketua Komisi B Mochammad Machmud. Bahkan terkesan Hari Sulstyowati menyerang Machmud. Sebab, perdebatan yang terjadi di ruangan Hari Sulistyawati ini terdengar berkata-kata dengan nada tinggi.
“Sudahlah. Pak Machmud tidak usah sok bijak,” kata Hari. Pernyataan
ini dapat terdengar dari sela-sela pintu. Sebab pertemuan ini memang tidak boleh ada wartawan yang masuk. Dalam pertemuan ini, Hari benar-benar melampiaskan emosinya. Barangkali karena ia merasa tertekan karena telah terperangkap dengan kebijakan Ketua DPRD Wisnu Wardana, sehingga dias tak peduli siapa yang dihadapi.
Plt Sekwan itu meluapkan pernyataan demi pernyataan yang membuat Machmud tak diam. Begitu Machmud hendak angkat bicara, Hari sudah terlebih dulu menyahut. ”Saya tidak mau mendengarkan suara Pak Mahmud. Tidak akan selesai-selesai. Nanti akan terulang lagi,” kata Hari Sulistyowati dengan nada kethus.
Ucapan ini sebetulnya tidak hanya disampaikan person to person. Sebab dalam ruangan itu juga ada Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) Blegur
Prijanggono) dan Wakil Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) Mazlan Mansur. Ada juga Kabag TU Halim Kamanjaya dan Kepala SPI Kumbang Wilis.
Di sisi lain, Hari juga mengatakan dirinya bekerja sudah maksimal. Ia mengatakan dirinya tidak ada tunjangan jabatan. “Awak’e dewe sampe loro, Rek. Saya tidak dapat tunjangan jabatan, kerja berat di sini, melayani njengengan-njengenan dalam kondisi politik yang tidak bagus seperti ini,” tuturnyaja panjang lebar dengan bahasa campuran antara bahasa Jawa dengan Indonesia. Ia lantas menyatakan jika ada persoalan, hendaknya jangan dirinya dilibatkan. “Duduk saja bersama, jangan saya yang dilibatkan,” katanya.
Setelah itu, suasana pun makin panas. Tiba-tiba Hari Sulistyawati mengusir dua pejabat bawahannya yakni Halim Kamanjaya dan Kumbang Wilis. Entah pemicunya apa, tiba-tiba Hari berkata dengan nada keras. “Tolong jangan di ruangan saya. Pak Kumbang, keluar. Pak Halim, keluar,” usir Hari.
Setelah itu, Hari juga ikut keluar. Kepada wartawan yang menunggunya
di luar, ia juga masih tak bisa menahan emosi. “Mau apa? Mewancarai saya? Iya? Tentang apa? Itu ada Pak Mahmud,” katanya ketus.Setelah itu ia berlalu.
Terpisah Machmud mengatakan, dirinya juga bingung dengan sikap Hari Sulistyawati. Kata dia, dirinya hanya ingin Sekwan menekenkan surat
undangan untuk hearing di Komisi B. Dalam kapasitasnya ia datang sebagai ketua Komisi B. “Namun Bu Hari tidak mau dengan alasan karena
yang tanda tangan adalah Wakil Ketua Musyafak Rouf,” kata Machmud.
Ia justru timbul pertanyaan, kenapa dengan Musyafak Rouf? Menurutnya, pimpinan DPRD adalah kolektif koligia. Jika pimpinan lain berhalangan, maka bisa diwakilkan ke pimpinan yang lain. Tetapi tanda tangan Musyafak ditolak. “Kenapa? Ada apa?” kata Machmud.
Ini adalah sikap aneh, sebagai pejabat di Sekwan DPRD Surabaya tidak mau dengan Wakil Ketua dewan. Sikap Plt Sekwan hari Sulistyowati itu menimbulkan teka teki di kalangan wartawan yang ngepos di dewan, ada apa dia menolak Wakil Ketua DPRD Musyafak Rouf, jangan-jangan dia sudah terperangkap dengan Ketua DPRD Surabaya Wisnu Wardhana?, (anto)

Related posts

Buyung : SBY Bisa Terancam 12 Tahun Penjara Jika Turuti Permintaan Nazarudin

kornus

Selesai Ditata, Pemkot Surabaya Bangun Halte Bus

kornus

Salurkan Bibit Mangrove, Blue Bird Peduli Konservasi Lingkungan

kornus