KORAN NUSANTARA
ekbis Hallo Nusantara Headline Surabaya

Ketua DPRD Surabaya Desak Standarisasi SOP Nasional Pasca-Insiden Keracunan MBG

Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri,

Surabaya, mediakorannusantara.com – Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menegaskan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa.

Syaifuddin Zuhri menyampaikan hal tersebut saat agenda rapat paripurna dengar pendapat (hearing) di Komisi D DPRD Surabaya, Rabu (13/5/2026).

“Kalau ini dianggap hal yang biasa, ya enggak boleh, karena ini menyangkut nasib anak. Maka hal ini harus menjadi prioritas untuk dilakukan perubahan demi penyelamatan anak-anak kita,” kata Syaifuddin, Rabu (13/5/2026).

Menurut Syaifuddin Zuhri, meski MBG bertujuan mulia menyiapkan Indonesia Emas 2045, aspek mitigasi harus menjadi standar utama.

Syaifuddin Zuhri mengaku telah berkomunikasi dengan pihak kementerian agar hasil diskusi dan evaluasi di Surabaya dijadikan referensi nasional.

“Jangan sampai bicara tentang baik tapi tidak menyiapkan hal yang memungkinkan menjadi situasi keterpurukan. Kita dorong agar SOP distandardkan bagi seluruh MBG se-Indonesia,” imbuh politisi PDIP itu.

Dalam rapat tersebut, terungkap fakta mengejutkan mengenai kendala pemeriksaan laboratorium.

Kepala Pelayanan Pemenuhan Gizi (PPG) Kota Surabaya, Kusmayanti, menjelaskan bahwa sampel makanan yang akan diuji justru mengalami kerusakan karena tidak ditangani dengan benar.

“Harusnya sampel dimasukkan ke lab dengan treatment khusus ke kulkas, tidak didiamkan dalam suhu ruangan. Akibatnya, saat Lab Dinkes datang, posisi makanan tidak dalam posisi seperti awal, sehingga hanya daging yang bisa diambil untuk sampel. Nantinya hasil lab tidak utuh,” ungkap Kusmayanti.

Lebih lanjut, Kusmayanti membeberkan hasil pemeriksaan (BAP) terhadap sepuluh Satuan Pelayanan Gizi (SPG).

Kusmayanti menyebut secara sistem SOP dari BGT sudah baik, namun implementasinya di lapangan bermasalah.

Beberapa poin krusial ditemukan pengawas gizi tidak ada di lokasi saat bahan baku datang, sehingga sulit dipastikan apakah kerusakan bermula dari bahan asal atau proses pengolahan.

“Ini menjadi catatan kami untuk lebih waspada dan hati-hati dalam penerapan SOP di Surabaya. Kami mohon maaf dan masih menunggu hasil keseluruhan untuk menarik kesimpulan akhir,” tutup Kusmayanti.

Sebelumnya, ratusan siswa dari belasan sekolah di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya keracunan usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG).

Pusing hingga mual dikeluhkan siswa hingga dilarikan ke Puskesmas dan RS.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah siswa dilarikan ke Puskesmas Tembok Dukuh.

Namun, sebagian besar dievakuasi ke RS Ibu dan Anak IBI Jalan Dupak, Surabaya.

Kepala Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya, drg Tyas Pranadani membenarkan adanya keracunan massal MBG.

Pihaknya hingga kini masih melakukan pendataan terhadap para korban.

Menurut drg Tyas Pranadani, ada beberapa sekolah yang berasal dari satu SPPG yang sama mengalami keluhan serupa.

“Hampir semuanya mengeluh. Jadi total itu bisa ada sekolah itu sekitar 12 sekolah lah, yang di dapur yang sama,” kata drg Tyas kepada wartawan di RS Ibu dan Anak IBI Surabaya, Selasa (12/5/2026).

Tyas menambahkan, ratusan siswa yang keracunan ditangani di dua fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Total sekitar 200 siswa dari 12 sekolah yang mengalami gejala keracunan.(wa/an)

Related posts

Gunung Sinabung Meletus Lagi, Abu Vulkanik Menyembur 5 Kilometer

redaksi

Teknologi Nuklir tawarkan akurasi pendeteksian pemalsuan pangan

Golkar Sambut Baik Usulan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Singgung Jasa Ketahanan Pangan