
Jakarta, mediakorannusantara.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat hilirisasi minyak atsiri nasional melalui pengembangan Pusat Flavor and Fragrance (PFF) sebagai pusat inovasi, pelatihan, dan inkubasi bisnis produk pada hari Minggu, 10 Mei 2026.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan di Jakarta menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri flavor, fragrance, dan wellness berbasis bahan alam karena didukung kekayaan biodiversitas dan ketersediaan komoditas minyak atsiri yang melimpah.
Pengembangan PFF di Bali bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi minyak atsiri nasional agar tidak diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti parfum, aromaterapi, produk spa, kosmetik, hingga produk rumah tangga berbasis bahan alam, ujar Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menurut Menteri Perindustrian, PFF yang berlokasi di Bali memiliki peluang pasar yang sangat besar untuk pengembangan industri hilir minyak atsiri karena didukung tingginya aktivitas pariwisata serta berkembangnya industri spa dan wellness.
Selain itu, tren gaya hidup sehat turut meningkatkan kebutuhan produk aromaterapi, minyak spa, parfum, lilin aromaterapi, dan produk perawatan tubuh berbahan alami.
Pelaksana Tugas Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa pengembangan PFF diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri flavor dan fragrance nasional melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi produk, serta penguatan jejaring industri.
PFF Bali tidak hanya jadi pusat pelatihan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi katalis pengembangan industri flavor dan fragrance nasional berbasis minyak atsiri, kata Putu Juli Ardika.
Melalui fasilitas ini, pemerintah mengupayakan lahirnya produk-produk inovatif yang memiliki daya saing di pasar domestik dan global, lanjut Putu Juli Ardika.
Sejak dikembangkan, PFF telah melaksanakan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas dan pelatihan berbasis minyak atsiri.
Salah satu program strategis yang telah dilaksanakan adalah pelatihan sertifikasi peracikan minyak spa berbasis minyak atsiri bagi 40 pekerja migran Indonesia yang bekerja sama dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
Putu Juli Ardika mengatakan bahwa pelatihan tersebut sebagai bagian dari penguatan kompetensi tenaga kerja sektor spa dan wellness, termasuk untuk penempatan kerja ke Maldives.
Selain itu, PFF juga telah menyelenggarakan pelatihan nonsertifikasi peracikan aromaterapi atsiri bagi internal Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar dan masyarakat umum, serta mini class Create Your Scent bersama Spa Factory Bali.
PFF kemudian melakukan penyusunan kurikulum peracikan parfum berbahan minyak atsiri untuk mendukung pengembangan SDM industri flavor dan fragrance nasional.
Disampaikan Putu Juli Ardika, pada tahun 2026, pengembangan PFF terus diperkuat melalui berbagai program pelatihan berbasis praktik yang mendukung pengembangan industri hilir minyak atsiri dan ekonomi kreatif masyarakat.
Pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi produk sabun hasil kerja sama BDI Denpasar dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana juga telah dilaksanakan pada 13 Maret 2026 dengan jumlah peserta sebanyak 22 orang.
Selanjutnya, PFF Bali akan melaksanakan pelatihan peracikan parfum pada 29 Mei 2026 sebagai bagian dari pengembangan kompetensi industri fragrance berbasis minyak atsiri.
Selain itu, akan diselenggarakan pelatihan pembuatan sabun dan lilin aromaterapi pada 29 Juni 2026 guna mengembangkan produk wellness berbasis bahan alam.
Pada 7 Agustus 2026, PFF juga direncanakan menyelenggarakan pelatihan pembuatan dupa aromaterapi untuk mendukung diversifikasi produk hilir minyak atsiri bernilai tambah.
Putu Juli Ardika menambahkan bahwa pengembangan industri flavor dan fragrance nasional memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha agar tercipta rantai nilai industri yang berkelanjutan.
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan produk flavor, fragrance, dan wellness berbasis bahan alam di tingkat global, tutur Putu Juli Ardika.
Karena itu, penguatan hilirisasi dan pengembangan SDM industri harus terus dipercepat, pungkas Putu Juli Ardika.
(wa/an)
