KORAN NUSANTARA
Hallo Nusantara Headline Nasional

Integrasi Cek Kesehatan Gratis Perkuat Data Genomika untuk Pengobatan Presisi

Jakarta,mediakorannusantara.com- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memproyeksikan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai instrumen vital dalam memperkaya database Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI). Langkah ini diambil untuk mengakselerasi pengembangan pengobatan presisi di Indonesia dengan memanfaatkan analisis genetik dari populasi yang luas.

Dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (12/2), Menkes menjelaskan bahwa melalui pengambilan sampel darah pada program CKG, pemerintah dapat memetakan korelasi antara jenis penyakit yang mendominasi populasi Indonesia dengan profil genetik pasien. Dengan data tersebut, tenaga medis dapat memberikan tindakan atau pengobatan yang jauh lebih akurat dan personal bagi setiap individu.

Mengingat cakupan program CKG yang masif, terdapat potensi sekitar 100 juta data yang bisa diintegrasikan untuk kebutuhan medis masa depan. Namun, Menkes menekankan perlunya peningkatan kapasitas genome sequencing dan penyediaan reagen secara bertahap, dari 15 ribu menjadi 100 ribu sampel per tahun, seiring dengan pembaruan teknologi mesin yang lebih canggih.

Selain untuk pengobatan, teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan machine learning akan digunakan untuk mempelajari risiko penyakit seseorang berdasarkan 3 miliar pasangan basa DNA mereka. Dengan membandingkan data genetik individu sehat dan sakit, mutasi penyebab penyakit dapat terdeteksi lebih dini sebagai upaya preventif menuju target Indonesia Emas.

Keamanan data menjadi prioritas utama dalam inisiatif ini. Berbeda dengan sebelumnya yang banyak bergantung pada data genomik luar negeri, kini seluruh data wajib disimpan di pusat data Kementerian Kesehatan untuk mencegah kebocoran. Kemenkes menargetkan pembangunan database populasi ini mampu menghimpun 400 ribu data pada tahun 2030.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menambahkan bahwa teknologi ini merupakan solusi efisiensi anggaran negara. Dengan pengobatan yang presisi, prosedur medis yang tidak perlu atau metode “coba-coba” dapat dieliminasi. Hal ini diharapkan mampu menekan pemborosan biaya kesehatan sehingga sistem keuangan negara menjadi lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan.( wa/ar)

Related posts

Komisi E Tinjau Inovasi Tenpina dan Mosipena BPBD Jatim

kornus

Menteri PAN RB Minta Polisi Tinggalkan Mental Priyayi

kornus

Panglima TNI: Hidup Damai Jangan Saling Menyalahkan

kornus