Surabaya (KN) – Gubernur Jatim Soekarwo memukul gong saat acara pembukaan seminar Konferensi Internasional Jurnalis Televisi Indonesia di gedung Negara Grahadi Jl Gubernur Suryo Surabaya. Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta agar pertelevisian Indonesia dapat membatasi konten acara lebih ketat lagi. Pasalnya saat ini pihaknya masih banyak menemukan konten acara televisi yang menampilkan kekerasan dan ditonton anak di bawah umur.
Hal ini ditegaskan oleh Gubernur Jawa Timur saat acara pembukaan seminar Konferensi Internasional Jurnalis Televisi di gedung Negara Grahadi, Rabu (30/10/2013) malam.
Dikatakannya, saat ini siaran televisi memiliki kekuatan untuk mempengaruhi budaya dalam skala lebih luas dibanding media lainnya. Siaran televisi masuk ke ruang keluarga bisa lebih dari 20 jam sehari, dan bisa dinikmati oleh siapapun tanpa peduli tingkat pendidikan dan usia.
“Jadi pihaknya berharap ke depan dunia pertelevisian Indonesia dan juga khususnya jurnalis Televisi harus benar – benar mengatur kontennya yang layak ditonton, sehingga tidak lagi muncul kekerasan dalam dunia pertelevisian Indonesia,”ujarnya.
Lebih lanjut ada pula pandangan lain, yaitu televisi bukan sekadar cermin. Televisi tidak diam dan pasif merefleksikan apa-apa di luar sana. Pemilik dan pengelola stasiun penyiaran televisi turut mewarnai dan menyeleksi gambar-gambar itu sesuai dengan sudut pandangnya. “Sehingga apa yang dilihat dan diterima masyarakat bukan informasi yang sepenuhnya obyektif, bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu,” ujarnya.
Padahal frekuensi, yang merupakan kendaraan utama siaran televisi, sebenarnya adalah barang publik, barang milik bersama. “Para pemilik dan pengelola siaran televisi ibarat kata hanya meminjamnya dari masyarakat dan pada mereka terletak tanggung jawab sosial penggunaan barang pinjaman itu,” ujarnya.
Maka itu pihaknya meminta kepada KPI, sebagai badan independen yang mengawasi isi siaran televisi, memainkan peran yang sangat penting. KPI bertugas untuk menjaga keseimbangan kepentingan publik dan kepentingan privat. “Saya yakin, KPI mampu menggariskan dan mengawal keseimbangan yang adil itu. Kita semua menaruh harapan besar agar KPI dapat menjalankan amanah yang sangat penting ini,”ujarnya.
Sementara itu Hendriyana Yadi Ketua Umum IJTI mengatakan, sejumlah agenda akan dibahas dalam konferensi pertama yang digelar IJTI Jawa Timur sebagai tuan rumah, diantaranya menyangkut independensi serta integritas jurnalis tv di tengah terus majunya Indonesia.
“Independensi serta integritas para jurnalis, khususnya para jurnalis tv di negeri ini masih cukup menarik untuk dibahas. Dan itu menjadi satu diantara agenda yang akan kami bahas pada konferensi yang akan kami gelar di Surabaya,” terangnya.
Persoalan kekerasan terhadap kinerja media maupun para pekerjanya sendiri ketika sedang menjalankan tugas reportase di lapangan juga menjadi topik bahasan yang diharapkan dapat mengerucutkan pemahaman akan rawannya profesi jurnalis, khususnya jurnalis televisi.
Hendriyana menegaskan bahwa kekerasan pada profesi jurnalis termasuk pada para jurnalis tv hingga saat ini masih berlangsung dan terjadi di daerah-daerah, bahkan tidak sedikit yang akhirnya menimbulkan korban dalam kekerasan yang dialami para jurnalis tersebut.
“Kekerasan pada jurnalis termasuk pada jurnalis tv, hingga saat ini masih terjadi, dan pada konferensi nanti hal itu menjadi topik bahasan juga. Ini menjadi penting dalam rangka menghadapi peristiwa nasional yang bakal terjadi pada 2014 nanti, yaitu Pemilihan Umum,” tuturnya. (yo)
Foto : Gubernur Jawa Timur Soekarwo membuka Seminar Konferensi Internasional Jurnalis Televisi Indonesia
