KORAN NUSANTARA
Headline indeks Jatim

DPRD Jatim Kritisi Perdagangan Australia Ke Indonesia

Surabaya (KN) – Komisi B DPRD Jawa Timur mengkritisi perdagangan yang dilakukan negara Australia selalu merugikan negara Indonesia, seperti impor sapi, misalnya setelah sampai di Indonesia ternyata tidak bisa dikembangbiakan.Ketua Komisi B DPRD Jatim, Agus Dono di DPRD Jatim, Senin (27/1/2014) secara terang-terangan mengkritisi sistim perdagangan yang dilakukan pemerintah Australia. Banyak ekspor buah-buahan dari Jatim ditolak karena tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah Kanguru. Sementara, pemerintah Australia ketika mengekspor hasil pertanian ke Indonesia minta kelonggaran. ‘’Ini yang namanya tidak adil. Karena itu, saya mendesak kepada pemerintah oposisi agar ada rasa keadilan dalam hal perdagangan. Jika tidak, kami mengancam akan menghentikan segala bentuk impor khususnya soal sapi,’’ tegasnya.

Ia menjelaskan, selama ini sapi-sapi yang didatangkan dari Australia tanpa didampingi oleh tenaga penyuluh, padahal tenaga-tenaga ini sangat penting untuk mendampingi para peternak untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengembang biakan sapi-sapi tersebut, termasuk makanan apa saja yang harus diberikan agar sapi yang ada mudah beranak atau memiliki kualitas susu yang baik.

Tetapi, kata dia, dalam kenyataan, ketika sapi Australia dikembangbiakan di Jatim tidak bisa, bahkan sapi-sapi yang ada sudah disuntik mandul lebih dahulu. Soal buah-buahan, ternyata Australia hanya membatasi empat komoditi buah yang bisa di ekspor ke Australia, salah satunya Salak. Selain itu, buah-buahan yang dikirim dan ketika masuk ke balai karantina milik Australia dibutuhkan waktu selama dua minggu. Dengan begitu ketika kondisi keluar dari balai karantina langsung busuk.

Melihat kenyataan yang tak seimbang, ia mengkritisi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia. “Bahkan waktu itu kami mengancam akan memutus hubungan perdagangan jika pemerintah Australia tidak segera memperbaiki perjanjian yang ada. Apalagi pemerintah oposisi menyatakan kesediaannya untuk mendesak pemerintah yang sah,’’papar Agus Dono.

Disisi lain, pihaknya juga mengritisi maraknya daging jerohan asal Australia yang membanjiri pasar Indonesia dan Jatim khususnya. Padahal, hati di negara Kanguru digunakan untuk makanan ternak. ‘’Saya juga sampaikan kepada mereka agar pemerintah disana bertindak keras bagi importer yang mengirim daging jerohan ke Indonesia. Ini karena jerohan disana tidak dijual tapi digunakan untuk makanan ternak. Makanya ketika dijual harganya sangat murah,’’ ujarnya. (rif)

Related posts

Mobil Circo Berisi Uang Rp 2 Miliar Hilang Di Royal Plaza

kornus

Persebaya Dapat Harga Khusus Sewa Gelora Bung Tomo

kornus

Komisi X DPR Soroti Biaya Kuliah Yang Kian mahal

kornus