
Jakarta, mediakorannusantara.com-Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa skrining kusta akan resmi menjadi bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai tahun 2026.
Langkah ini diambil sebagai strategi pemerintah untuk mempercepat eliminasi penyakit kusta di Indonesia melalui deteksi dini yang lebih luas.
Budi menjelaskan bahwa meskipun kusta memiliki tingkat penularan yang rendah, pemerintah berkomitmen untuk aktif mencari penderita agar segera mendapatkan pengobatan
.Saat ini, tercatat sekitar 13.000 hingga 15.000 kasus kusta di Indonesia, namun angka riil di lapangan diprediksi bisa jauh lebih tinggi. Untuk mendorong transparansi data, Kemenkes akan memberikan penghargaan kepada kepala daerah dan puskesmas yang berhasil menemukan kasus terbanyak di wilayahnya.
Selain melalui integrasi CKG, penguatan deteksi juga dilakukan dengan tes PCR khusus bagi penduduk di wilayah Indonesia bagian timur. Strategi penanganan kusta ini mencakup pengobatan tuntas bagi pasien selama 6 hingga 12 bulan serta pemberian profilaksis atau obat pencegahan bagi keluarga dan kontak erat pasien. Pemerintah menargetkan Indonesia dapat mencapai eliminasi kusta sepenuhnya pada tahun 2030.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, menekankan pentingnya kolaborasi multisektor dalam menangani aspek sosial kusta, terutama terkait pengurangan stigma. Melalui riset di Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata, ditemukan bahwa kusta bukan sekadar masalah medis, melainkan juga masalah sosial-ekonomi yang memengaruhi kualitas hidup penderita.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina传递 The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, mengingatkan bahwa Indonesia masih menempati posisi tiga besar kasus kusta tertinggi di dunia bersama India dan Brasil.
Menurutnya, pemberantasan kusta tidak cukup hanya dengan kebijakan medis, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial dan keagamaan untuk menghapus diskriminasi terhadap penyandang kusta di masyarakat.( ar/an)
