Kini di Surabaya dan sekitarnya mulai banyak bermunculan gaya promosi politik melalui baliho. Promosi politik untuk mendongkrak citra diri melalui baliho sepertinya menjadi “penyakit baru” yang melahirkan dekadensi moral bagi mereka yang berambisi menjadi kepala daerah ataupun anggota DPR dan DPRD.
Sepertinya menjadi calon pemimpin itu ak perlu memiliki visi dan misi yang logis, cukup dengan memajang gambar diri dengan senyum lebar tanpa dosa ditambah janji-janji, maka seseorang sudah bisa mengaku dirinya sebagai calon pemimpin masa depan yang layak dipilih.
Memang, bila sepintas lalu, tidak ada yang salah dengan isi baliho tersebut, bahkan sudah umum ditemui dimana-mana. Namun yang membuat miris dan sakit hati adalah saat membaca baliho-baliho tersebut di tengah jalan protokol yang masuk kawasan terlarang untuk mendirikan reklame, jalur hijau, kawasan jalan rusak parah, becek dan tergenang air, serta dikawasan permukiman penduduk yang kehidupan ekonomi warganya tergolong kurang mampu. Hal ini tentu membuat rakyat berpikir bahwa pemimpin itu hanya bisa omong kosong, membual gombal, dan hanya tipu-tipu. Nah, dalam kondisi ini disuguhi pula senyuman caleg atau calon kepala daerah yang mau maju.
Ada fenomena unik aneh tapi nyata, di Surabaya misalnya, dalam melewati sepanjang jalan-jalan protokol, jalur hijau, kawasan perkampungan, kini mulai bertebaran baliho,sepanduk dan bener calon calon kepala daerah dan para politisi yang maju mencalonkan diri sebagai caleg DPR dan DPRD.
Sebenarnya calon pemimpin itu tak cukup hanya dengn mengobral janji manis dan menampangkan dirinya dengan harapan agar dipilih oleh rakyat. Tetapi seorang calon pemimpin itu harus peka terhadap apa yang diinginkan rakyatnya dan apa yang bisa diperbuat untuk rakyanya saat menjadi pemimpin nanti.
Disadari atau tidak, perang baliho sebenarnya kurang efektif dilakukan oleh seorang calon pemimpin dan justru menimbulkan narsis. Narsis itu sendiri biasanya timbul akibat daripada pujian dan penghormatan yang diterima berulang kali daripada individu lain. Sebagai contoh, seseorang akan berasa dirinya cantik karena acapkali menerima pujian bahwa dirinya cantik meskipun pada awalnya dia tidak merasa dirinya sedemikian. Narsis tidak hanya termanifestasi pada perilaku yang gemar memuji dirinya sendiri, kerap menghadap cermin atau kerap bergaya persis model, tetapi juga terdapat implikasi lain daripada sikap narsis itu sendiri.
Selain gejala narsisme ada juga niat dari orang-orang tersebut memasang baliho adalah untuk memperkenalkan diri. Hal ini sebenarnya memalukan sekali. Itu berarti menunjukkan bahwa orang tersebut kurang dikenal masyarat, tidak terkenal atau orang tersebut tidak berarti bagi rakyat di daerahnya. Jika tetap ngotot dengan politik pencitraan lewat baliho berarti orang tersebut memaksakan diri untuk dikenal dan terkenal padahal sebenarnya tidak.
Kini sudah bukan saatnya lagi calon pemimpin tebar pesona dengan politik baliho:
Sebab masyarakat tentu tidak akan hanya bisa terkelabui oleh propaganda baliho yang dilakukan oleh para calon pemimpin begitu saja.
Mestinya para calon pemimpin itu sadar dan lebih baik mereka menggunakan media massa agar visi misinya bisa dipaparkan secara panjang lebar. Agar rakyat bisa tahu sejak dini. Pasanglah advetorial atau iklan, itu lebih efektif. Sampaikan visi, misi dan apa program-programnya, sehingga rakyat akan tertarik untuk memilihnya. ***
Foto: Pemimpin Redaksi Koran Nusantara
