KORAN NUSANTARA
indeks Jatim

Setiap Hari, Pencemaran Emisi karbon Di Jatim Mencapai 7544,485 Gram CO2

imagesSurabaya (KN) – Peneliti Institute for Essential Services Reform (IESR), Henriette Imelda Rambitan, Selasa (31/5), mengatakan, pencemaran emisi karbon di Jatim dalam setiap harinya mencapai 7544,485 gram CO2- ek/kap/hari. Pencemaran berasal dari lampu, sampah, barang elektronik, kertas dan motor ternyata mampu mencemari Jawa Timur dengan emisi karbon yang dihasilkannya.
Data pencemaran emisi tersebut merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan pada 2010 lalu. Dari hasil penelitian menyebutkan, emisi dari penggunaan lampu setiap harinya mencapai 283,460 gram CO2- ek/kap/hari, emisi sampah 6,402 gram CO2- ek/kap/hari, barang elektronik 5216,027 gram CO2- ek/kap/hari, emisi kertas 60,26 gram CO2- ek/kap/hari dan emisi motor 8,463 gram CO2- ek/kap/hari.
Dikatakannya, hasil penelitian dengan metode survei ini menunjukkan total emisi yang dihasilkan masyarakat secara individu adalah 7942,744 gram CO2-ek/kap/hari yang melingkupi kegiatan-kegiatan penggunaan barang elektronik, sampah organik yang dihasilkan, penggunaan kertas, penggunaan kendaraan pribadi, dan penggunaan lampu.
Meski demikian, kata Imelda, pencemaran emisi tersebut masih termasuk ambang normal. Survei itu juga menunjukkan bahwa masyarakat dapat mengurangi emisi dengan mengurangi jumlah barang elektronik yang digunakan, serta lamanya pemakaian. Survei ini juga menyimpulkan bahwa perubahan gaya hidup perlu dilakukan oleh masyarakat, terutama dari segi efisiensi energi dalam lingkungan rumah dan kerja masing-masing.
Hasil penelitian menyebutkan, mahasiswa dan swasta merupakan penyumbang emisi tertinggi. Untuk mengurangi emisi dari kedua pekerjaan ini, pastinya penggunaan listrik harus dikurangi, dan untuk mahasiswa, penggunaan kertas sebagai lembar kerja mahasiswa dapat diganti dengan sarana laptop.
Apabila mahasiswa berpindah dari kertas ke laptop, emisi dari penggunaan listrik untuk barang-barang elektronik pastinya meningkat. Hal ini harus dijadikan pertimbangan hingga akhirnya dapat ditemukan jalan tengahnya.
Emisi dari penggunaan listrik untuk pekerja domestik sendiri, dapat dikendalikan dengan cara menanamkan pola penggunaan listrik yang efisien. Itu sebabnya, sosialisasi dan peningkatan kapasitas mengenai pentingnya efisiensi energi, harus dilakukan.
Untuk mengetahui jumlah emisi yang dihasilkan setiap harinya, IESR sebenarnya telah meluncurkan karbon kalculator, yakni sebuah alat untuk mengukur jumlah emisi. Hingga saat ini, berdasarkan profesi, ternyata para pengisi karbon kalculator kebanyakan adalah mahasiswa, disusul kaum pelajar dan swasta. Fakta tersebut membuktikan bahwa isu mengenai perubahan iklim dan emisi lebih banyak menyentuh para mahasiswa dan pelajar ketimbang pekerja.
Padahal sebenarnya, perubahan iklim dan pengetahuan mengenai emisi sudah sepantasnya diketahui dan dikuasai oleh para pekerja swasta, sebagai bagian dari kebijakan perusahaan terhadap kontribusinya bagi masyarakat di dalam perusahaan dan juga di luar perusahaan dalam membangun image green.
IESR adalah sebuah lembaga yang secara aktif melakukan advokasi dan kampanye untuk menjamin tercapainya pemenuhan kebutuhan energi masyarakat, keadilan dalam pemanfaatan sumber daya alam serta keberlanjutan ekologi. (ms)

Related posts

Pemkab Trenggalek diharap Peduli Industri Kecil Menengah

Tingkatkan Kualitas Produk dan Daya Saing, Gubernur Jatim Serahkan 450 Sertifikat Ekspor

kornus

Sejumlah Anggota Maju Pilkada, Pimpinan Komisi B dan C dprd Jatim Dikocok Ulang

kornus