
Bogor, mediakorannusantara.com– Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Kabupaten Bogor akan diawali dengan prosesi yang sarat makna. Bupati Bogor Rudy Susmanto menjemput bendera pusaka dari Desa Malasari, sebuah lokasi bersejarah yang pernah menjadi benteng pertahanan pemerintah darurat. Bendera ini akan dikibarkan pada upacara 17 Agustus 2025 di Lapangan Tegar Beriman.
Rudy Susmanto menekankan bahwa bendera ini adalah simbol kehormatan dan perjuangan. “Ini bukan hanya simbol, tetapi wujud perjuangan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan,” ujarnya.
Penjemputan bendera dimulai dari eks Pendopo Bupati Bogor pertama, yang berbatasan dengan Sukabumi dan Lebak, Banten. Bangunan ini menjadi saksi bisu Agresi Militer Belanda II. Saat itu, Bupati Raden Ipik Gandamana menjadikan Malasari sebagai pusat pemerintahan darurat untuk menghindari serangan. Selama lima bulan, dari pendopo inilah pemerintahan sipil Kabupaten Bogor dijalankan, termasuk pengangkatan lurah dan pembentukan pamong praja.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Rudy juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan. Ia mengutip para pendiri bangsa, “Hatta tidak pernah melawan Soekarno, Soekarno tidak pernah melawan Sudirman. Benteng pertahanan terakhir bangsa adalah persatuan, dan musuh utamanya adalah perpecahan.”
Selain itu, Rudy juga memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pembangunan di wilayah tersebut. Ia meminta Pemkab Bogor memastikan kualitas sekolah, fasilitas kesehatan, dan jalan di Malasari ditingkatkan. “Jangan sampai tempat bersejarah ini hanya dikenang setahun sekali,” tegasnya.
Pendopo di Malasari, yang ditetapkan sebagai rumah sejarah dan cagar budaya, menjadi bukti nyata perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dipimpin oleh tokoh militer dan ulama, Raden Ipik Gandamana.( ar/wa)
