KH Asep Saifuddin Chalim, ditemui usai istighosah dan engusulan Gelar Pahlawan Nasional di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Siwalankerto Utara II No 33 Surabaya, Raby (28/5/2025) malam.
Surabaya (mediakorannusantara.com) – KH Yusuf Hasyim, paman dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Pengusulan tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) itu diinisiasi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, dan mendapat dukungan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Sebagai bentuk dukungan terhadap hal tersebut, digelar istighosah dan Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Siwalankerto Utara II No 33 Surabaya, pada Rabu (28/5/2025) malam.
“Betapa besar jasanya beliau berjuang dari sejak usia 12 tahun sampai meninggalnya untuk bangsa dan negara. Yang paling kentara dari beliau adalah menyelamatkan Madiun dari kemungkinan Madiun yang pada waktu itu diupayakan menjadi negara bagian, itu bisa dihalau oleh KH Yusuf Hasyim,” ujar KH Asep usai istighosah.
KH Asep juga menyebut peran penting KH Yusuf Hasyim dalam menghadang kekuatan militer Belanda di garis Van Mook yang mengancam wilayah Jawa Timur.
“Kemudian ada garis Van Mook yang dikuasai Jenderal Belanda, dan itu bisa dihalau Kyai Yusuf Hasyim. Dimana tidak sama kan dengan Kalimantan yang ada bagiannya, yakni Brunei,” lanjutnya.
Lebih lanjut, KH Asep mengungkapkan bahwa tanpa kehadiran KH Yusuf Hasyim, ada potensi sebagian wilayah Jawa Timur terpecah dari NKRI akibat infiltrasi kekuatan asing.
“Tadi dijelaskan Prof Usep, seandainya kita tidak ada Kyai Yusuf Hasyim, sebagian Pulau Jawa atau Jawa Timur ada yang terpecah dari pada asing, apakah itu Uni Soviet atau Belanda,” katanya.
Tidak hanya itu, KH Asep menuturkan bahwa KH Yusuf Hasyim juga tercatat turut serta dalam pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, yang menjadi tonggak perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.
“Kemudian beliau ikut dalam pertempuran 10 November. Jadi itu sangat layak sekali dan sumbernya primer semua, setelah memang digali kurang lebih 2 tahun,” ujar KH Asep.
Untuk itu, KH Asep berharap, perjuangan ini bisa menjadi perhatian serius Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Dewan Gelar, serta Sekretariat Presiden (Setpres) untuk kemudian disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Semoga kemudian itu semua akan menjadi pertimbangan dan didengar oleh yang terkait, TP2GP, Dewan Gelar dan Setpres, yang kemudian nanti menyampaikan tentang ini semua kepada presiden,” pungkasnya.
Sebagai diketahui, buku profil tentang KH Yusuf Hasyim ini telah dirangkum dari sumber-sumber primer. Buku ini ditulis oleh Prof Usep Abdul Matin, Yahya Muhammad dan Ahmad Zubair. (KN01)
