KORAN NUSANTARA
indeks Surabaya

Data Gakin Surabaya Penerima Raskin 2012 Masih Kacau

Surabaya (KN) – Data Keluarga Miskin (Gakin) Surabaya penerima beras untuk rakyat miskin (raskin) tahun 2012 saat ini masih kacau. Hingga sekarang hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya belum juga keluar.  Jadi, sampai menjelang akhir tahun 2011 ini belum ada kepastian berapa jumlah penduduk miskin di Surabaya yang bakal mendapatkan jatah raskin.

“Survei yang dilakukan BPS sebetulnya sudah tuntas Agustus lalu. Tapi, sampai sekarang kami belum mengetahui berapa banyak Gakin di Surabaya yang bakal mendapat raskin tersebut,” kata M. Iksan, Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya, Sabtu (12/11).

Biasanya, kata Iksan, jumlah warga miskin yang menerima raskin ini berdasarkan hasil pendataan BPS. Namun, karena belum mendapatkan data berapa jumlah warga miskin di Surabaya, maka tidak menutup kemungkinan jumlah gakin yang mendapatkan jatah raskin diambilkan data tahun 2008 lalu. “Data gakin 2008 itu pun masih perkiraan saja,” ujarnya.

Menurutnya, jika pilihan ini terjadi, jumlah gakin yang akan mendapatkan jatah raskin pada 2012 nanti sebanyak 110 ribu Kepala Keluarga (KK) sama dengan tahun 2011 ini. Sedangkan Bapemas dan KB sendiri telah melakukan survei yang hasilnya jumlah gakin di Surabaya mencapai 113 ribu KK atau terdapat selisih 3.000 KK dibandingkan hasil survei dari BPS. “Mengingat yang dipakai adalah hasil survei dari BPS maka yang mendapatkan raskin hanya  110 ribu KK. Dengan demikian masih ada 3.000 KK miskin yang tidak mendapatkan jatah raskin,” jelasnya.

Kondisi ini sudah tentu akan membuat pusing Pemkot. Tapi, biasanya di lapangan ada kesepakatan bersama. Salah satu diantaranya, raskin tersebut tidak diberikan penuh kepada gakin penerima raskin. Kalau biasanya setiap KK gakin mendapatkan jatah raskin sebesar 15 Kg, maka raskin 15 Kg itu dibagi untuk dua atau tiga KK gakin. “Ini berdasarkan kesepakatan bersama,” jelasnya.

Agar persoalan data tersebut tidak simpang siur, pihaknya akan pergi ke Jakarta untuk mempertanyakan jumlah warga miskin di Surabaya yang berhak mendapatkan raskin. Selain itu, juga mempertanyakan jumlah beras yang nantinya dibagikan ke gakin. “Dalam waktu dekat ini kami akan ke Jakarta untuk meminta kejelasan soal itu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua komisi D DPRD Surabaya Baktiono mengatakan, sudah sejak lima tahun silam hingga sekarang data jumlah gakin kacau. Dewan sudah meminta agar masalah jumlah gakin di Surabaya dipastikan besarnya agar tidak terjadi penyimpangan pemberian raskin  Namun, sampai sekarang datanya tetap saja simpang siur dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Kami tentu menyayangkan hal ini. Coba bayangkan, data BPS dan Pemkot terdapat selisih 3.000 KK, ini kan aneh. Jumlah itu kan sangat besar dan masalahnya tidak pernah tuntas hingga sekarang,” ungkapnya.

Baktiono mengatakan, penyebabnya masih adanya perbedaan parameter penilaian terhadap gakin di Surabaya. Di antaranya masalah kriteria gakin. Penilaian Pemkot KK yang tidak memiliki rumah atau rumahnya sewa ke orang lain dianggap miskin. Padahal, meski gakin itu sudah punya TV maupun sepeda motor juga tetap masuk sebagai data gakin. Sedangkan penilain BPS tidak demikian.

“Di sinilah perbedaannya, sehingga soal data gakin di Surabaya tidak pernah sama. Meski disatukan dengan cara apa pun tetap tidak bisa kompak. Akibatnya, pemberian raskin pun menjadi kacau balau hingga sekarang,” terangnya.

Ia menambahkan, dewan sudah pernah menyatukan pendapat BPS dengan Pemkot soal ini. Ternyata, langkah yang dilakukan dewan sia-sia. Pasalnya, parameter penilaian terhadap gakin berbeda. (anto)

Related posts

TNI Kirim Satgas Kesehatan Bantu Korban Gempa NAD

kornus

Divonis 3,5 Tahun Oleh Pengadilan Tinggi DKI, Susno Akan Ajukan Kasasi

kornus

Walikota Eri Cahyadi Bersama Kelompok Tani Panen Raya 2 Hektar Padi di Kecamatan Pakal

kornus