KORAN NUSANTARA
Headline indeks Surabaya

Badan Ketahanan Pangan Temukan Apel Mengandung Bahan Pengawe Berbahaya

ilustrasi-apelSurabaya (KN) – Masyarakat harus berhati-hati bila ingin mengkonsumsi buah-buahan. Utamanya buah-buahan import. Pasalnya, ada temuan buah-buahan import tersebut ternyata menggunakan bahan ‘berbahaya’ untuk bahan pengawet. Celakanya kandungan bahan berbahaya tersebut bentuknya tidak kentara dan kerap dikonsumsi oleh masyarakat. Yang membahayakan adalah bila buah-buahan itu dikonsumsi oleh anak-anak. Ini karena murni ketidaktahuan dari masyarakat.

Tahun ini tim monitoring Bagian Ketahanan Pangan Pemkot Surabaya telah menemukan apel import. Dimana buah tersebut sekilas mengundang selera dengan warnanya yang mengkilap merah. Namun ternyata setelah diteliti, apel itu ternyata dilapisi dengan lilin tipis di kulit luarnya. Kalau tidak diamati dengan teliti lapisan ini tidak kelihatan.
“Lapisannya tipis sekali dan banyak orang yang tidak tahu kalau itu adalah semacam lapisan lilin. Ini jelas membahayakan,” ujar Drs. Hari Tjahyono, Kepala Bagian Ketahanan Pangan Kota Surabaya.

Terkait dengan temuan tersebut, pihaknya tidak tinggal diam. Yang diakukan utamanya kepada anak anak SD yakni dengan mensosialisasikan secara langsung. Yakni memberikan contoh kepada anak-anak dengan jalan menggaruk kulit apel merah itu dengan pisau kecil. “Setelah digaruk dengan pisau maka keluarlah lapisan lilin baru tersadar bahwa apel ini tidak sehat,” jelasnya.

Dalam upaya sosialisasi tersebut, Bagian Ketahanan Pangan juga menghadirkan pihak berkompeten dari Depkes, Balai POM, pakar dari perguruan tinggi dan lain lain.
‬Lebih lanjut Hari Tjahyono menerangkan bahwa ‘tugas’ dinasnya yang lain adalah mencari sumber pangan alternatif. Bagian Ketahanan Pangan pada tahun 2015 yang diplot anggaran sekitar Rp 2 miliar ini, terus melakukan monitoring terhadap makanan olahan yang dijual bebas di masyarakat. Tujuannya agar makanan yang dikonsumsi masyarakat tetap higienis dan tidak membahayakan tubuh.

“Kami selalu rutin menurunkan tim monitoring ke pasar pasar atau tempat umum lainnya untuk mengawasi makanan olahan yang dijual bebas. Kalau kami temukan ada makanan yang tak sehat mengandung boraks dan formalin akan kami sampaikan ke instansi terkait,” paparnya. (anto)

Related posts

Gedung Dewan Rusak, Dimakan Rayap dan Banyak Tikusnya

kornus

Satgas KLHK siapkan Sanksi berlapis untuk Pelaku Pencemaran Udara

Sebanyak 21,65 Persen Pasien positif COVID-19 di Jatim sembuh