KORAN NUSANTARA
ekbis indeks

Asmindo Perkirakan Target Kanaikan Ekspor 2011 Naik Menjadi 3 Miliar Dolar Terkendala Penguatan Rupiah

Surabaya (KN)- Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) memperkirakan target kenaikan ekspor mebel dan kerajinan tangan tahun ini dari sebesar 200 juta dolar AS menjadi 3 miliar dolar AS akan terkendala oleh penguatan rupiah.
EKSPOR_MEBELKetua Asmindo Ambar Tjahyono mengatakan, dengan kenaikan sebesar itu, diperkirakan mampu merekrut 100.000 tenaga kerja baru. “Kami ragu apakah bisa mewujudkan hal tersebut mengingat penguatan rupiah membuat eksportir mebel merugi,” ujarnya, Selasa (3/5).
Ambar Tjahyono menilai, posisi rupiah saat ini sudah terlalu kuat. Hal itu membuat pengusaha mebel merugi. “Ini menyusahkan kita, apalagi mebel kan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia,” ujar Ambar. Eksportir mebel merugi karena mayoritas kontrak mereka ada pada posisi Rp 8.900 -Rp 9.000 per dolar AS. Dia menilai, rupiah semestinya ada pada posisi Rp 9.000 per dolar AS. Angka itu dinilai menguntungkan, baik bagi eksportir maupun importir.
Dari data Asmindo Jatim tercatat Jepang menjadi negara tujuan ekspor furniture Jatim terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Eropa. Pada tahun 2010, realisasi ekspor furniture ke Jepang mencapai sekitar 200 juta dolar AS  per tahun, naik sekitar 10% dari tahun 2009 yang hanya mencapai sekitar 180 juta dolar AS.
Sebelumnya  Chilman Suaidi sekretaris Asmindo memastikan, ke depan, kebutuhan furniture Jepang akan bertambah besar seiring dengan proses recovery dan pembangunan kembali gedung dan perkantoran serta perumahan yang hancur akibat bencana gempa dan tsunami. Karena bagaimanapun juga, kebutuhan mereka terhadap produk furniture akan menjadi semakin besar. Dan Jepang adalah negara industri yang maju yang pastinya akan lebih mudah bangkit.
Hanya, untuk saat ini ia mengaku untuk sementara waktu pihaknya akan lebih berkonsentrasi pada pasar Amerika dan Eropa karena pada tahun ini diperkirakan akan tumbuh sekitar 15% dari realisasi tahun 2010 yang mencapai dikisaran 300 juta dolar AS per tahun.
“Sebenarnya mulai tahun lalu kita sudah mulai menggarap pasar Timur Tengah atau Afrika Utara seperti Mesir dan Libya, akan tetapi dalam beberapa bulan terakhir kondisi perpolitikan di sana sedang memanas. Sehingga kita memilih untuk lebih berkonsentrasi ke pasar tardisional dulu, Amerika dan Eropa,” pungkasnya.(ms)

Related posts

KA Argo Parahyangan Anjlok di Bandung

redaksi

Pemprov Jatim Berhasil Raih Dua Penghargaan BKN Award 2021

kornus

Separo Konstituen Partai Demokrat Membelot Dukung Jokowi-Maruf Amin

redaksi