KORAN NUSANTARA
Hallo Nusantara Headline indeks

Antara Prestasi dan Janji

AntoKepemimpinan Ir.Tri Rismahrini pada bulan desember ini genap 4 tahun 3 bulan memimpin kota Surabaya. Ia, sebagai walikota perempuan pertama di Surabaya, yang dipilih langsung oleh rakyat Surabaya mewakili partai PDIP yang selama dekade kepartaian era reformasi di Surabaya sebagai pemenang pemilu di kota pahlawan ini.Sebagai pemimpin kota atau dikenal dalam istilah Gamis, maka walikota adalah Waliyul ‘Amri atau Ulil ‘Amri (wakil pemerintah dalam Islam red] tentu banyak hal yang telah diperbuatnya, untuk memajukan kota ini. Sehingga akan banyak prestasi-prestasi yang dicapainya, akan tetapi bukan tanpa cacat atau kekurangan-kekurangan dalam menjalankan tugas sebagai walikota Surabaya atau bukan berarti tidak punya hutang atas janji-janji dalam kampenye, karena tidak akan ada manusia sempurna di dunia ini kecuali Sang Pencipta.

Pembangunan dan peremajaan taman-taman kota yang pernah dirilis oleh walikota sebelumnya Bambang DH, merupakan salah satu prestasi Tri Rismharini yang paling menonjol, sehingga kota ini tampak lebih hijau, rindang dan asri. Pembangunan dan peremajaan taman menjadikan kota ini menonjol diantara kota-kota besar yang lain di negeri ini, karena pembangunan dan peremajaan taman dibarengi dengan perbaikan trotoar atrau yang dikenal pendistrian dan kanstin atau berem jalan.

Dimasa Walikota dr. Purnomo Kasidi, sebagai walikota Surabaya dia dikenal sebagai walikota got atas keberhasilannya mengatasi persoalan banjir di kota ini, sehingga manfaatnya dapat dinikmati oleh masyarakat Surabaya hingga saat ini, tiada banjir seperti kota Jakarta. Karena itu, layak jika walikota Tri Rismaharini dijuluki sebagai “Walikota Taman”, karena pretasinya membangun dan meremajakan taman-taman di Surabaya menjadi hijau dan asri.

Risma, sapaan akrab Tri Rismaharini telah berhasil merubah pasukan kuning era Walikota Purnomo Kasidi yang di usung oleh partai Golkar yang punya atribut kuning, menjadi pasukan orange yang menyerupai warna atribut PDIP yang merah. Demikian sistem kegiatan pasukan kuning dimasa lalu ditingkatkan lebih di intensifkan dalam managemen pengelolaan pasukan oranye, meskipun tehnis sistem kerjanya tetap sama, dikerjakan oleh rekanan kebersihan, meski pasukan kuninmg tidak sebanyak rekanan kebersihannya dibanding pasukan oranye. Hanya saja, limit anggarannya berbeda jauh karena pasukan oranye ini dianggarkan tanpa batas, sedangkan pasukan kuning anggarannya sangat terbatas ketika itu disebabkan diukur dengan pola penerimaan retribusi sampah.

Mengapa pasukan kuning ketika itu sangat menonjol ? Karena sistem gerakan dukungannya sangat berbeda. Jika pasukan kuning era Purnomo Kasidi lebih banyak dibantu oleh gerakan sosial kemasyarakatan, maka pasukan oranye lebih banyak dibantu oleh besarnya anggaran kebersihan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebersihan. Tanam pohon, tanam bunga dan peremajaan ketika era pasukan kuning banyak terlibat masyarakat secara sukarela, di era pasukan oranye bergantung kepada anggaran Pemkot Surabaya. Sehingga era pasukan kuning terdapat tokoh-tokoh pasukan kuning yang menonjol seperti era Sugiran dkk, sekarang berubah tokoh-tokoh era pasukan oranye terdapat puluhan direktur-direktur perusahaan rekanan Dinas Kebersihan.

Keterlibatan masyarakat era pasukan kuning sangat menonjol dengan apel-apel pasukan kuning di berbagai pelosok kelurahan, sedangkan penonjolan pasukan oranye ada pada kedisiplinan para penyapu jalan yang dikordinir oleh direktur-direktur rekanan. Demikian imbalan kesejahteraan pasukan kuning tergantung kepada belas kasih Pemkot melalui stimulus rumah susun di Sumbo, Bangunrejo dan Panjaringansari serta kavling tanah di bekas tempat pembuangan sampah Keputih, misalnya. Sekarang stimulus pasukan ornye lebih baik dan trerakomodir karena menggunakan patokan upah pokok minimum regional oleh sebab pengendalian oleh sang direktur-direktur rekanan perusahaan tersebut.

Komersialisasi Taman :

Pembangunan dan peremajaan taman yang paling menonjol dalam kepemimpinan Tri Rismaharini  terdapat di bekas-bekas fasum yang selama ini kurang terawat seperti bekas bangunan pompa bensin Jl  Biliton dan Taman Bungkul, Taman Prestasi, Taman Ekspresi, Taman Kunang-Kunang dan lainya. Sayangnya pembangunan taman yang sekarang jadi taman kota tersebut didesain berupa plaza yang berkonotasi negatif karena digunakan sebagai tempat “pacaran” muda-mudi didepan para balita yang sedang bermain disana, meskipun dijaga oleh petugas Satpol PP dan Linmas akan tetapi nyatanya lebih pandai para wanita dan pria yang memfanatkan tempat tersebut untuk bermesraan dibanding petugas Satpol PP dan Linmas.

Yang menyedihkan, pembangunan Taman Bungkul atau Plaza Bungkul adalah ditempat cagar budaya yang dikeramatkan oleh masyarakat Muslim sebagai penduduk terbesar di kota ini. Sehingga berakibat pencemaran nilai-nilai budaya Muslim yang sakral tersebut oleh ulah para muda-mudi dan hidung belang. PWNU Surabaya, berkali-kali telah melayangkan protes melalui media massa, akan tetapi lebih didengar entertaimentnya ketimbang protesnya para ulama NU dan tokoh masyarakat. Sementara dengan dalih menabrak cagar budaya, sebuah bangunan Stasiun Semut tidak diberikan izin dan sebuah cagar budaya toko Nam berhasil lobby dengan izin bangunan hotel mewah, sehingga aturan cagar budaya di Surabaya tersebut masih dalam batas slogan.

Plaza Taman Bungkul saat ini sangat populis sebagai tempat hiburan kota dengan desain dan pembangunan bantuan pihak ketiga melalui dana Comunity development sosial responsibility (CSR) atau dapat disebutkan sebagai partisipasi pihak perusahaan, akan tetapi dapat menonjolkan dampak penataan, pembangunan dan peremajaan taman beralih dari partisipasi masyarakat di era gebyar pasukan kuning ke partisipasi komersialisasi pembangunan dan peremajaan taman di Surabaya. Sehingga tidak heran, ketika acara bagi-bagi es krim beberapa waktu lalu terjadi kerusakan taman oleh masyarakat dihargai oleh Pemkot miliaran rupiah per-ratus meternya karena diukur berdasarkan komersial dari sejak tanam hingga usia tumbuhnya tanaman bunga yang disebutkan oleh masyarakat pedesaan sebagai tanaman bunga “buangan” dipekarangan karena bunga-bunga itu dapat merusak tanaman produktif selain tidak indah seperti tanaman bunga puspomedro.

Pola pembangunan dan peremajaan taman tersebut, banyak hal yang teringat dengan pola reboisasi hutan yang ketika dicanangkan masa ordebaru, penuh dengan rekayasa dan dugaan tipu muslihat karena sulitnya pengawasan di lapangan oleh ketidak jelasan managament jumlah tanaman yang ditanam dan jumlah tanaman yang mati kemudian dilakukan reboisasi. Inilah faktor samping yang perlu mendapatkan perhatian lanjutan aparat hukum. ***

 

Related posts

DPRD Surabaya Jadi Saksi Diskusi Ilmiah, Arif Fathoni Apresiasi Tinggi Atas Inisiatif Mahasiswa

kornus

KPU Surabaya Resmi Kirim Surat Penundaan Pelantikan Ratih Retnowati ke Gubernur Jatim

kornus

Agenda Kementerian BUMN Bergeser untuk Pengamanan Kesehatan