
Jakarta, mediakorannusantara.com- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menginstruksikan sektor perbankan untuk memberikan penjelasan mendalam kepada lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, terkait perubahan proyeksi atau outlook menjadi negatif.
Langkah ini dinilai krusial agar setiap lembaga pemeringkat mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai kondisi fundamental dan langkah strategis yang tengah diambil oleh masing-masing institusi keuangan tersebut.
Airlangga menegaskan bahwa respon terhadap penilaian ini harus datang langsung dari korporasi yang bersangkutan. Meski terdapat penyesuaian outlook, ia menggarisbawahi bahwa secara nasional Indonesia masih berada dalam kategori layak investasi atau investment grade di mata Moody’s.
Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas keputusan Moody’s yang mengubah proyeksi lima bank besar nasional, yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN, dari stabil menjadi negatif.
Perubahan penilaian terhadap perbankan tersebut merupakan dampak berantai dari pergeseran outlook Indonesia di tingkat sovereign.
Walaupun Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, mereka memberikan catatan khusus mengenai pentingnya transparansi kebijakan, komunikasi publik yang solid, serta koordinasi antarlembaga negara di masa transisi tata kelola ekonomi.
Selain pihak perbankan, Airlangga juga meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk turut proaktif. Danantara diharapkan mampu memberikan kepastian mengenai arah kebijakan fiskal nasional guna meyakinkan lembaga pemeringkat bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah upaya penguatan basis penerimaan negara dan belanja prioritas.( wa/ar)
