KORAN NUSANTARA
Headline indeks Jatim

Gubernur Gagas Expenditure Reform Atasi Stagnasi PAD

Surabaya (KN) – Gubernur Jatim Soekarwo menggagaskan expenditure reformatau reformasi di sisi pengeluaran, sebagai strategi untuk mengatasi pendapatan asli daerah (PAD) Provinsi. Jatim yang cenderung stagnan dalam tiga tahun terakhir. Stagnasi PAD tersebut merupakan dampak dinamika global, yang menyebabkan perlambatan ekonomi hampir di semua negara termasuk Indonesia.“Kita masih dalam prosesatau on goingprogram expenditure reform sebagai salah satustrategi fiskal yang ditempuh Pemprov Jatim,” terang Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim pada acara Forum Dialog dengan wartawan Pokja Pemprov Jatim di Kantor Gubernur Jatim, Jl Pahlawan No. 110, Surabaya (7/4/2017).

Pakde Karwo menjelaskan, pola penerapan expenditure reformtersebut dengan memberikan stimulus di segmen UMKM. Caranya dengan memfasilitasiloan agreementyang memberikan bunga murah, mudah dan cepat. Terkait dana yang diberikan untuk loan agreement, agar tidak ada subsidi sehingga suku bunganya bisa lebih rendah yakni 6 persen.

“Dari total dana Rp. 120 triliun yang dialokasikan untu loan agreement, pemerintah tidak perlu mendapat giro. Sehingga dengan suku bunga 6 persen, 1,5 persennya untuk asuransi perbankan dan 4,5 persen keuntungan bank,” urainya.

Selain itu, Pakde Karwo juga akan segera mengumpulkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dimiliki Pemprov Jatim, agar dalam penyertaan modalnya bisa pinjam ke pihak ketiga. Jika BUMD hanya mengandalkan modal dari APBD, maka untuk kondisi ekonomi seperti ini sulit dilakukan. Oleh sebab itu, para direktur utama/dirut BUMD harus bisa membuat inovasi dan kebijakan agar modalnya dan keuntungannya bisa meningkat. “Sekarang kebijakannya kami ubah dan para dirut harus membuat solusi, sehingga bisa lebih mandiri. Restrukturisasi ini harus segera dilakukan,” imbuhnya.

Pakde Karwo menambahkan, untuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mampu menjadi Badan Layanan Umum Daerah/BLUD telah diinkubasi. Dari proses inkubasi tersebut berdasar pengelolaannya telah dikelompokkan dalam dua bagian yakni A dan B. Khusus untuk rumah sakit BLUD Pemprov Jatim, saat ini juga telah menerapkan kerjasama pembiayaan dengan perbankan dalam hal pembangunan. “Intinya dalam pembangunan infrastruktur harus menggunakan konsep Public Private Partnership /PPP sehingga tidak hanya mengandalkan APBD,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan, bagi masyarakat kecil atau miskin pemerintah wajib memberikan bantuan berupa charity. Disamping itu, bagi yang kecil termasuk petani juga harus diberdayakan dan didampingi sehingga bisa lebih produktif. Salah satu caranya dengan memberikan ketrampilan melalui pendidikan vokasiona. Sedangkan bagi segmen besar dilakukan efisiensi atau insentif non fiskal.

“Mereka harus kita didik menjadi SDM yang lebih berkualitas melalui vokasional. Sehingga petani tidak bergerak menjadi pengangguran di kota besar tapi ke industri karena ketrampilannya,” pungkasnya. (wan)

Related posts

Kemenperin Minta Kebijakan Zero Odol ditelaah

Perubahan Jalur Tol Surabaya – Gempol Akan Hambat Kelancaran Pembangunan Infrastruktuk

kornus

PPKM Surabaya Masih Level 3, Aktivitas Masyarakat Berpedoman pada Inmendagri

kornus