Surabaya (KN) – Pengadaan ribuan bangku sekolah yang dilakukan bagian perlengkapan pemerintah kota (pemkot) Surabaya dipermasalahkan Komisi C DPRD. Komisi yang membidangi masalah pembangunan itu memandang, keputusan pemkot yang lebih memprioritaskan produk dari luar daerah, sengaja untuk membunuh industri rumahan yang ada di Surabaya.
“Bahkan berdasarkan kabar yang saya terima, ada oknum yang bermain dalam pengadaan proyek bangku ini,” tegas ketua Komisi C, Sachiroel Alim Anwar, Rabu (15/5/2013).
Menurut Alim, sapaan Sachiroel Alim Anwar, indikasi adanya oknum yang bermain sebenarnya dapat dilihat dari usaha pemerintah kota yang selalau memenangkan penewar dari luar daerah. Sebab dengan cara tersebut, anggota legislatif akan dibuat kesulitan ketika akan melakukan kontrol ke lapangan. “Tapi, cepat atau lambat kami pasti akan cek langsung ke produsen pemaut bangku. tidak peduli meskipun lokasinya berada di luar jatim,” ujarnya.
Alim mengungkapkan, selama ini dasar pemkot dalam menentukan pemenang lelang adalah dilihat dari penawar terendah. Namun dengan melihat lokasi yang cukup jauh, seperti di Tangerang, Propinsi Banten, menurutnya dari segi manapun biayanya akan tetap mahal.
“Memang penawaran yang mereka ajukan rendah. tapi apa tidak dipikir biaya transportasi yang digunakan itu cukup mahal. ini hanya pembodohan saja,” cetusnya.
tidak hanya itu, legislator asal Partai Demokrat (PD) itu juga mengaku heran dengan pengadaan bangku di Surabaya. Sebab berdasarkan data yang ia miliki, hampir tiap tahun bagian perlengkapan selalu mengalokasikan anggaran buat belanja bangku.
Oleh karena itu, dirinya menduga, bila beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, sengaja membuat kesan bahwa kualitas bangku di Surabaya rendah, sehingga ada alasan untuk melakukan pembelian pada tahun berikutnya. “Untuk pengadaan, harusnya disesuaikan dengan kebutuhan serta jumlah siswa yang ada,” saran Alim.
Senada dengan Sachiroel Alim Anwar, Anggota Komisi C lainya, Agus Sudarsono juga meminta pengusaha lokal dilibatkan dalam setiap pengadaan bangku yang dilakukan bagian perlengkapan. “Mudahnya seperti ini, jika yang membayar pajak orang Surabaya, kenapa yang harus menikmati daerah lain,” kata Agus Sudarsono.
Agus mengusulakan, sebenarnya tidak ada yang salah jika pengadaan bangku diserahkan pada industri lokal. Dengan catatan, mekanismenya dilalaui dengan benar yaitu melalaui tender atau lelang. “Saya percaya, selain ikut menghidupakn pengusaha lokal. kebijakan tersebut juga bisa membina dan meumbuhkan iklim usaa di Surabaya,” tandasnya.
Menyikapi kritikan yang disampaikan Komisi C, Kepala bagian perlengkapan Noer Oemarijati, untuk masalah lelang pihaknya tidak atahu apa-apa. karena yang menetukan pemenang ternedernya semua berada di tangan Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang dikepalai Tri Broto Santoso.
Noer Oemarijati, menjelaskan, selain harus bisa memberikan enawaran terendah, untuk bisa memenagkan tender produsen bangku juga harus mampu menunjukan hasil karya yang akan dipesan. ‘Kalau untuk masalah kebutuhan bangku, jumlah pastinya kita belum tahu. Sebab untuk jumlah siswa yang lebih tahu adalah dinas pendidikan,” terang Noer Oemarijati.
Menurut Noer Oemarijati, selama ini untuk pengadaan bangku berdasarkan data yang diberikan Dindik. “kalau peruntukannya, biasanya untuk mengisi ruang yang masih kosong,” pungkasnya. (anto)
