Surabaya (MediaKoranNusantara.com) – Vaksin mandiri Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk hewan ternak ditarget selesai produksi pada akhir bulan Agustus 2022. Vaksin itu diproduksi oleh Pusat Veteriner Farma (PUVETMA) Surabaya yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Kementerian Pertanian (Kementan).
Hal itu sebagaimana dikemukakan Kepala PUSVETMA Surabaya, drh Edy Budi Susila saat menerima kunjungan kerja anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari di Kantor Pusvetma Jl Ahmad Yani No 68 Surabaya, Kamis (23/6/2022).
“Nanti sekitar akhir Agustus 2022, kita (PUSVETMA) menghasilkan produk batch (vaksin) pertama. Dengan anggaran pembiayaan dari pusat,” kata drh Edy Budi kepada awak media.
Sedangkan sebagai langkah darurat untuk mengatasi wabah PMK sekarang, pemerintah Indonesia mendatangkan vaksin dari sejumlah negara. Setidaknya ada total 3 juta dosis vaksin PMK yang didatangkan ke Indonesia secara bertahap.
“Karena prosesnya memang butuh waktu, sehingga didatangkan secara bertahap. Tahap pertama didatangkan 800 ribu dosis, kemudian dibagi ke seluruh Indonesia dan Jawa Timur mendapatkan 360 ribu dosis,” ungkap dia.
Menurut drh Edy, vaksin yang didatangkan dari impor memang sifatnya darurat. Hal itu dilakukan untuk mempercepat penanggulangan wabah PMK sembari menunggu Pusvetma Surabaya dapat kembali memproduksi vaksin secara mandiri.
“Karena sudah lama kita tidak memproduksi vaksin dan peralatan yang digunakan dulu sudah tidak bisa dipakai lagi untuk sekarang,” jelas dia.
drh Edy mengungkapkan, bahwa terakhir wabah PMK merebak di Indonesia pada tahun 1986. Sementara di tahun 1990, Indonesia baru dinyatakan bebas PMK secara internasional oleh Lembaga Badan Kesehatan Dunia.
“Jadi ada evaluasi 3 tahun terhadap hasil vaksinasi kita. Kemudian dinyatakan bahwa vaksinasi sudah selesai melindungi dan tidak ada kasus lagi baru tahun keempat (1990),” katanya.
Pasca kasus PMK di tahun 1990 itu sudah dinyatakan clear, Pusvetma Surabaya tak lagi memproduksi vaksin. Oleh sebabnya, sekarang ini sejumlah peralatan untuk produksi vaksin PMK di Pusvetma tak lagi bisa digunakan.
Di tempat yang sama, anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari mengatakan bahwa Indonesia mendatangkan total 3 juta dosis vaksin yang dipesan. Untuk tahap pertama vaksin didatangkan sebanyak 800 ribu dosis yang dibagikan ke seluruh provinsi di Indonesia.
“Untuk Jawa Timur di tahap pertama ini mendapatkan 360 ribu dosis. Dari total yang sudah dibeli oleh pemerintah pusat sebanyak 3 juta dosis vaksin,” kata Agatha.
Anggota Komisi B DPRD Jatim Agatha Retnosari saat sidak di PUSVETMA di Jl A Yani Surabaya, diterima langsung oleh Kepala PUSVETMA drh Edy Budi Susila, Kamis (23/6/2022)
Berdasarkan penjelasan PUSVETMA, Agatha menyebut, bahwa vaksin PMK yang diimpor dari sejumlah negara itu memang tak selalu ready stok. Artinya, harus pesan dahulu baru kemudian bisa diproduksi. Sehingga kedatangannya dilakukan secara bertahap.
“Cuma memang lebih cepat karena selama ini mereka (negara produksi vaksin PMK) selalu berproduksi. Beda dengan PUSVETMA yang sekarang karena sudah lama tidak produksi. Jadi, panjang prosesnya mulai dari ambil sampel, kultur, terus diuji ke sapinya efektifitas vaksin dan lain sebagainya,” papar Agatha.
Politisi PDI Perjuangan itu mengakui memang belum ada cara lain untuk bisa mempercepat vaksinasi PMK terhadap hewan ternak di Jawa Timur. Selain hanya mengandalkan kedatangan vaksin impor, Pusvetma juga tengah menyelesaikan batch produk vaksin mandiri.
“Tadi saya sudah tanya (Kepala Pusvetma) untuk mempercepat produksi vaksin, misal akhir bulan Agustus dimajukan ke bulan Juli itu tidak bisa,” jelas Agatha.
Maka dari itu, selama menunggu produk vaksin mandiri dari PUSVETMA rampung, Agatha menyarankan kepada dinas terkait agar gencar melakukan edukasi kepada para peternak. Misalnya edukasi terkait hewan ternak sapi yang sudah divaksin akan ditandai dengan barcode pada telinganya.
“Hal-hal semacam ini yang ada di lapangan nanti butuh terobosan dari dinas peternakan untuk bisa melakukan edukasi kepada peternak agar kemudian proses vaksinasi massal kepada sapi-sapi ini bisa berjalan dengan lancar,” pungkas Agatha. (KN01)
