Jakarta (mediakorannusantara.com) – Ekonomi syariah dinilai terus berkembang dan menjadi tren yang semakin menarik di Indonesia. Tantangan ke depan adalah memperkuat ekonomi syariah yang inklusif dengan menjadikan kesalehan spiritual sebagai sumber motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Pandangan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat menghadiri Ajang Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 di Plaza Insan Berprestasi, Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Ferry Juliantoro, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (KE PEPK) OJK Dicky Kartikoyono, serta jajaran Eselon I Kemendikdasmen dan OJK.
Menurut Abdul Mu’ti, terdapat fenomena menarik di Indonesia ketika peningkatan kesejahteraan umat Islam diiringi dengan meningkatnya kesalehan. Hal tersebut, menurut dia, salah satunya dapat dilihat dari semakin banyaknya masyarakat yang menunaikan ibadah umrah dan panjangnya antrean haji.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia yang ditopang oleh ekonomi syariah berbasis ketaatan beragama.
“Mengutip survey World Charity Index beberapa tahun yang lalu, negara yang paling dermawan sedunia adalah Indonesia. Dan diantara penyumbang ekonomi Indonesia adalah ketaatan membayar zakat, infak dan sedekah. Itulah orang Indonesia makin kaya makin soleh,” ujar Mu’ti.
Abdul Mu’ti menyebut potensi zakat di Indonesia sangat besar dan bahkan dapat mencapai seperempat APBN. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya menjadi aktual karena penyaluran zakat, infak, dan sedekah masih banyak dilakukan secara langsung kepada penerima.
Menurutnya, kondisi itu bukan berarti umat Islam tidak berinfak dan bersedekah. Namun, sebagian masyarakat masih merasa lebih nyaman menyalurkan bantuan secara langsung dibandingkan melalui lembaga resmi.
Ia menjelaskan, aspek inklusi syariah di Indonesia semakin kuat dengan adanya kebijakan yang memungkinkan kelebihan pembayaran pajak dikaitkan dengan kewajiban agama, seperti zakat, infak, dan sedekah. “Kalau ingin pajaknya tidak banyak-banyak, zakatnya diperbanyak,” katanya.
Abdul Mu’ti juga mencontohkan pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk membantu pembangunan sekolah setelah bencana banjir di Aceh. Menurutnya, sebagian sekolah tersebut dibangun menggunakan dana ZIS dari karyawan Kemendikdasmen, bukan anggaran kementerian, dengan nilai hampir Rp1 miliar.
“Ini contoh bagaimana kemudian ekonomi syariah itu juga tidak sekedar pinjam-meminjam, tidak sekedar menabung atau pinjam. Gerakan ekonomi syariah kita gunakan untuk memberi beasiswa, kita gunakan untuk menggaji guru. Itu ekonomi syariah yang versi baru saya kira,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantoro menyoroti masih adanya kesenjangan antara pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah dan pemanfaatannya.
Ia menyebut tingkat literasi keuangan syariah saat ini telah mencapai 43 persen. Namun, tingkat inklusinya baru berada di angka 13,24 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah dengan pemanfaatannya dalam kehidupan ekonomi.
Di sisi lain, Ajang Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 mencatat peningkatan partisipasi generasi muda. Total peserta ISFO 2026 mencapai 11.952 orang, meningkat 15,3 persen dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 10.367 peserta.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (KE PEPK) OJK, Dicky Kartikoyono mengatakan, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan semakin kuatnya literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan pelajar, mahasiswa, hingga wirausaha muda di berbagai daerah Indonesia.
“Bagi saya, bagi OJK, ini bukan sekadar angka, tapi lebih menunjukkan betapa sebenarnya animo dari adik-adik sekalian untuk belajar, menguji kemampuan, ikut terlibat, kemudian yang pasti adalah ikut terus melakukan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan keuangan syariah,” ujar Dicky. (KN01/*)
