KORAN NUSANTARA
hukum kriminal indeks

Solidaritas Peduli PRT Desak Kejati Jatim Hukum Berat Tan Fang May dan Keluarganya

tanSurabaya (KN) – Menumbuhkan rasa setia kawan senasib, Solidaritas Peduli Pembantu Rumah Tangga (PRT) menggelar aksi unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Rabu (24/8), sekitar pukul 10.00 Wib.Kedatangan Solidaritas Peduli PRT ini menuntut agar Tan Fang May (47) dan keluarganya, tersakka penganiayaan terhadap pembantunya itu dituntut hukuman berat karena telah melakukan penganiayaan secara keji terhadap Marlena (17) Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di rumahnya.
Koordinator Solidaritas Peduli PRT Hany Putri Lestari menyatakan, pihaknya akan melakukan pengawalan kasus Marlena ini sampai nanti pada putusan sudah berkekuatan hukum tetap.
Sebab kata Hany, pihaknya tidak menginginkan proses hukum yang terjadi pada Sunarsih yang juga dianiaya secara keji oleh majikannya itu terjadi pada Marlena. Dimana majikan Sunarsih saat proses hukum di Pengadilan Negeri (PN) dihukum empat tahun, namun ketika di Pengadilan Tinggi (PT) hanya dihukum dua tahun. “Kita tidak menginginkan hal itu terjadi pada kasus Marlena,” kata Hany.
Hary menyatakan, indikasi adanya upaya-upaya untuk menggebiri proses hukum sudah dilakukan keluarga terdakwa. Hal itu bisa dilihat saat proses penyidikan, dimana keluarga terdakwa berusaha mengintervensi keluarga korban supaya mencabut laporannya.
Selain itu, keluarga terdakwa juga berusaha mengintervensi supaya keterangan yang diberikan saksi-saksi tidak memberatkan, sehingga bisa meloloskan para terdakwa lolos dari jeratan hukum. “Kita tidak menginginkan hal itu terjadi, bagaimanapun terdakwa adalah orang yang mampu dari sisi materi. Jadi segala sesuatu bisa saja terjadi, kemungkinan untuk menyuap aparat penegak hukum kita bisa saja dilakukan. Kita berharap, aparat penegak hukum tetap konsisiten dan menghukum seberat-beratnya terdakwa sesuai ancaman pasal yang dijeratkanya, yakni 10 tahun dan 15 tahun penjara,” katanya.
Hery menandaskan, kondisi korban sendiri sampai saat ini secara psikologis masih terlihat trauma, namun secara fisik sudah berangsur-angsur sembuh meski dengan keadaan cacat seumur hidup pada kakinya akibat penganiayaan yang dilakukan Tan sekeluarga.
Perlu diketahui Marlena, gadis 17 tahun asal Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban tersebut disiksa oleh keluarga majikannya bernama Tan Fang May (47) alias Cik Fang. Meski penderitaanya berakhir, penyiksaan itu meninggalkan cacat tetap di tubuh Marlena. Luka-luka itu antara lain, luka bakar dan memar. Bahkan kaki kanan Marlena terancam diamputasi karena terjadi penggumpalan darah dan hampir membusuk.
Sudah tiga tahun Marlena bekerja di keluarga Tan yang tinggal di kawasan Darmo Permai Selatan, Surabaya itu. Namun, baru enam bulan terakhir, tepatnya sejak Desember 2010, korban disiksa dan diperlakukan tidak manusiawi. “Korban disiksa secara kejam sejak enam bulan lalu. Kami semua menahan para tersangka yang masih satu keluarga itu,” tegas Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung waktu lalu.
Menurut Coki, setiap hari, Marlena menjadi bulan-bulanan Fang dan keluarganya. Anak baru gede itu dihajar, disiram air panas, sampai disekap di kamar mandi. Dia (korban) bahkan disuruh minum air bekas cucian pakaian kotor.
Selama itu pula, Marlena dipaksa tidur bersama anjing peliharaan keluarga Tan yang diikat di pekarangan belakang rumahnya. Layaknya anjing, leher Marlena juga dirantai. Marlena tidur tanpa alas bercampur kotoran dan air kencing anjing. Karena tidur di tempat kotor itu, luka-luka penyiksaan di tubuh Marela pun mengalami infeksi. (bon)

Foto : Tan Fang May

Related posts

Tingkatkan Mutu Pendidikan, Pemkot Surabaya Latih 1.343 Kepala PAUD

kornus

Komisi C Minta Pemkot Tindak Tegas Kontraktor Lamban

kornus

Pastikan Kinerja ASN Pemprov Tetap Produktif, Wagub Emil Sidak Kantor Disperindag Jatim

kornus