Surabaya (KN) – Walikota Surabaya Tri Rismaharini mulai bungkam ketika dimintai tanggapan terkait penolakan pekerja seks komersial (PSK), mucikari dan warga di lokalisasi Dolly, Senin (19/5/2014) kemarin. Orang nomor satu di Surabaya itu hanya menegaskan, pihaknya tidak mengambil pusing atas penolakan tersebut. Ini sangat berbeda dengan beberapa hari lalu dimana dia cukup bersemangat membahas konsep dan strategi penutupan lokalisasi Dolly tersebut.
Risma, sapaan Waikota Tri Rismaharini usai menjadi komandan upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di depan Balai Kota Surabaya pukul 09.00Wib, awalnya bicara panjang lebar mengenai makna Harkitnas bagi bangsa, khususnya anak-anak.
Namun, raut muka Risma mendadak berubah ketika ditanya mengenai penolakan penutupan lokalisasi Dolly. Seketika Risma langsung memalingkan wajah dari hadapan wartawan yang sebelumnya telah mewawancarainya. Dengan langkah cepat, Risma meninggalkan awak media sembari berkata “Tidak apa-apa, tidak apa”. Kemudian masuk ke dalam lift menuju lantai dua Balai Kota Surabaya. Tak lama kemudian dia menghilang masuk ke ruang kerjanya.
Sikap yang sama juga ditunjukkan Risma seusai menerima kunjungan dari pejabat dari Johor Baru di ruang sidang walikota di Balai Kota Surabaya, Selasa (20/5/2014) sore. Kunjungan pejabat dari salah satu kota negeri Jiran Malaysia ini untuk studi banding pengelolaan lingkungan. Acara berlangsung selama hampir dua jam. Setelah acara selesai, Risma lantas mengantar para tamu hingga didepan Balai Kota.
Sayangnya, walikota yang biasa bicara lantang itu bergegas masuk ke mobil dinas menuju ke rumah dinasnya di Jl Sedap Malam 1 Surabaya tak jauh dai balai Kota.
Menurut Kabag Humas Pemkot Surabaya M Fikser, Risma sedang ada rapat tertutup di rumah dinasnya tersebut. Para wartawan yang sudah menunggu sekian lama, akhirnya gagal mewawancarai Risma. (anto)
