Surabaya (KN) – Gubernur Soekarwo berkomitmen menutup 44 lokalisasi di Jatim. Ini terbukti dengan dikeluarkannya surat edaran (SE) tentang penutupan 44 lokalisasi di seluruh Jawa Timur selama bulan Ramadan 1433 H. Gubernur juga memberikan instruksi kepada sebagian daerah untuk melakukan penutupan secara permanen. Surat Edaran (SE) dari Gubernur ini ditanggapi beragam dari Bupati/Walikota. Di Tulungagung, pemerintah setempat bahkan menindaklanjutinya dengan melakukan penutupan permanen bagi dua lokalisasi Ngujang dan Ngunut. Dua lokalisasi ini rencannya ditutup tiga hari sebelum Ramadan.
“Insyaallah WTS yang ada di Kabupaten Banyuwangi juga akan ditutup, dan selama Ramadan para WTS ini tidak diizinkan untuk melakukan aktivitas. Pemprov Jatim membantu mempercepat proses pemulangan WTS ke daerah asal dengan diberikan modal tiga juta rupiah,” kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat menghadiri Doa dan Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jaelani di Pondok Pesantren Al. Qodiri, Jember, Kamis (5/7) Malam.
Gubernur Soekarwo menjelaskan, SE itu memerintahkan kepada seluruh Bupati/Walikota untuk memberdayakan seluruh wanita tuna susila (WTS) yang ada di seluruh lokalisasi selama ditutup Ramadan. Pemberdayaan itu dilakukan dengan pelatihan kerja serta motivasi mental dan spiritual keagamaan. Pembinaan dilakukan kepada para WTS yang tidak pulang kampung. Sedangkan bagi para WTS yang pulang, pemerintah setempat juga diminta melakukan pendataan. Tujuannya agar tak ada lagi penambahan WTS baru yang mungkin saja bisa bertambah.
Data tahun 2011 lalu, jumlah WTS di Jatim sebanyak 7.127 orang dari 47 lokalisasi yang tersebar di 33 kabupaten/Kota, dan hingga akhir Mei 2012 jumlah WTS di Jatim terjadi penurunan atau berkurang sekitar 396 orang PSK (WTS).
Penurunan itu, karena adanya tiga lokalisasi di Kabupaten Blitar ditutup dengan jumlah 224 WTS dan ditambah lagi 121 WTS dari lokalisasi Dupak Bangunsari serta 51 WTS dari Tambak Asri, Dolly dan Jarak Kota Surabaya yang telah berhasil dientas.
Dalam kegiatan dzikir yang dihadiri ratusan ribu jamaah ini, Soekarwo juga mengucapkan terima kasih kepada para kyai yang telah berperan besar dalam menjadikan Jawa Timur aman.
Ia mengatakan, situasi aman dan nyaman karena adanya dukungan dari para kyai, ustadz dan ustadzahnya yang langsung turun ke masyarakat untuk memberikan pemahaman dan perhatian lebih mengenai hidup sehat yang didalamnya terdapat akhlakul karimah atau akhlaq yang mulia. “Ini salah satu bentuk komunikasi antara kyai, santri dan masyarakat sehingga situasi Jatim menjadi aman, nyaman dan terus terjaga,” ujarnya.
Gubernur mencontohkan, situasi aman dan nyaman seperti dalam kehidupan rumah tangga yang harmonis. Ibarat rumah tangga kalau sering bertengkar dan sering terjadi salah faham pasti rezekinya dijauhkan apalagi ini adalah pemerintah yang memiliki kultur masyarakat sangat banyak. “Allhamdulillah antara umaroh dan para ulama bersatu dan berkumpul melakukan doa bersama bagi bangsa dan negara,” pungkasnya. (yok)
Foto : Ilustrasi lokalisasi
