Jakarta, mediakorannusantara.com-Presiden RI Prabowo Subianto memberikan peringatan keras mengenai risiko ketergantungan pada impor pangan di tengah situasi geopolitik dunia yang tidak menentu.
Dalam arahan pada Taklimat Awal Tahun di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1/2026), Presiden menekankan bahwa ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat mengancam ketahanan nasional, terutama jika negara eksportir terlibat dalam konflik bersenjata.
Presiden mencontohkan ketegangan yang terjadi antara Thailand dan Kamboja sebagai pengingat akan kerentanan rantai pasok. Mengingat Indonesia sebelumnya sering mengandalkan impor beras dari kedua negara tersebut, konflik yang terus berulang di sana berpotensi memutus suplai pangan domestik.
Beliau juga merujuk pada pengalaman masa pandemi COVID-19, di mana banyak negara menutup ekspor pangan untuk kepentingan dalam negeri mereka sendiri, sehingga membuat impor menjadi sulit meski dana tersedia.
Guna mengantisipasi ketidakpastian tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa program swasembada pangan yang kini dijalankan pemerintah merupakan langkah strategis yang tepat dan berbasis kajian jangka panjang.
Menurutnya, sebuah bangsa tidak akan benar-benar merdeka jika tidak mampu menjamin ketersediaan pangan bagi rakyatnya sendiri secara mandiri atau berdikari.
Keberhasilan strategi ini mulai terlihat dari pencapaian swasembada pada tahun lalu. Presiden mengungkapkan rasa bangganya atas kondisi ketahanan pangan saat ini, di mana cadangan beras pemerintah per 31 Desember 2025 mencapai kisaran tiga juta ton.
Angka ini tercatat sebagai cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Indonesia, yang sekaligus menjadi fondasi kuat dalam memperkuat posisi tawar dan keamanan nasional di mata dunia.( wa/ar)
