KORAN NUSANTARA
ekbis indeks

Perubahan Iklim Yang Ekstrem Berpengaruhi Kualitas dan Produksi Gula Nasional

Surabaya (KN)- Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jatim, Ir Samsul Arifin MMA menjelaskan, perubahan iklim yang ekstrem cukup mempengaruhi rendemen tebu petani, sehingga berpengaruh pula pada kualitas dan produksi gula nasional.produksi gula Namun, kini pihaknya cukup optimistis hasil rendemen tahun ini bisa naik, karena kondisi cuaca mulai membaik.
Untuk target rendemen, tiap PTPN atau PT Gula di Jatim bisa lebih dari 8 persen. Lebih rinci, untuk PTPN X rendemen ditargetkan mencapai 8,47 persen, PTPN XI mencapai 8,08 persen. Sedangkan PT RNI ditargetkan 8,03 persen, PT Candi Baru sebesar 8,01 persen, dan PT Kebon Agung sebesar 7,85 persen. Sehingga rata-rata rendemen bisa mencapai 8,09 persen.
Guna meningkatkan hasil produksi gula, tahun ini pihaknya mulai memperluas area produksi tebu dari tahun lalu seluas 200.000 hektar kini menjadi 210.000 hektar. Untuk hasil produski pun juga ditargetkan meningkat dari 16.618.000 ton menjadi 17.776.500 ton. Dari target perluasan dan peningkatan hasil produski, maka produkstifitas tebu pun bisa meningkat dari 83,09 ton/hektar menjadi 84,65 ton/hektar.
Menurut dia, rendahnya rendemen tebu petani beberapa saat lalu tidak hanya terjadi di Jawa Timur, namun di seluruh daerah baik di Jawa atau luar Jawa. “Rendahnya rendemen tebu petani mempengaruhi kualitas gula yang diproduksi, yang juga akan berpengaruh pada harga beli tebu petani oleh pabrik. Sehingga itu berdampak pula pada keuntungan petani,” jelasnya
Sementara rencana impor gula yang dilakukan pemerintah hanya terjadi hingga beberapa hari ke depan. Ini karena pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah menyatakan akan menyetop impor per 15 April 2011 mendatang.
Sekretaris Perusahaan PTPN XI, Adig Suwandi saat dikonfirmasi, Senin (4/4) mengatakan, hingga kini impor gula masih terus berlangsung. Namun, meski pasarnya memungkinkan, pihaknya menegaskan tidak melakukan impor jika batas waktu yang ditetapkan pemerintah untuk melakukan impor sudah terlewati.
Kini, dalam proses impor gula pun juga mengalami kendala. Misalnya, masih tingginya harga gula dunia serta banyaknya rembesan gula rafinasi yang beredar di pasaran menjadi faktor utama penghambat realisasi impor gula yang sudah diizinkan pemerintah. Ia mengaku saat ini PTPN XI hanya mampu merealisasi impor gula sekitar 17,4% dari izin impor sebanyak 90.000 ton pada tahun ini.
Untuk distribusi gula impor di sekitar Jawa Timur, saat ini pihaknya masih melakukan survei dan pemetaan daerah-daerah yang potensial dimasuki gula impor. Beberapa di antaranya yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Tiga daerah ini menurutnya bukan wilayah sentra produsen gula. Sehingga, importir bisa memasarkan gula impor di wilayah tersebut. “Nanti jalurnya bisa masuk pelauhan Tanjung Perak dulu,” katanya.
Secara total, untuk tahun ini pemerintah mengeluarkan ijin impor gula sebanyak 450.000 ton. Rinciannya, untuk PTPN IX 70.000 ton, PTPN X 90.000 ton, PTPN XI 90.000 ton, PT Rajawali Nusantara Indonesia 50.000 ton dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebesar 90.000 ton serta Perum Bulog 60.000 ton. Dari jatah tersebut, yang sudah melakukan realisasi adalah PT PPI 26.694 ton, Perum Bulog 2.886 ton dan PTPN XI 19.950 ton.
Untuk produksi gula lokal, tahun ini Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur menargetkan rendemen atau kadar kandungan gula didalam batang tebu bisa mencapai di atas 8 persen. Dengan adanya target itu diharapkan bisa meningkatkan rendemen tebu dari tahun lalu yang masih cukup rendah yakni rata-rata 6,2 persen, karena kendala anomali cuaca.(rif)

Related posts

Gubernur Khofifah Silaturahmi dengan Para Ulama di Ponpes Amanatul Ummah Siwalankerto Surabaya

kornus

Harumkan Kota Batu, Atlet Perbakin Kota wisata batu Raih juara 1Kejuraraan Nasional Piala Pangdam V/Brawijaya

kornus

Peringati Harkitnas, Ajak Teladani Semangat Dr Soetomo

kornus