KORAN NUSANTARA
Hallo Nusantara Headline Nasional Surabaya

Pelayanan PPJT RSUD Dr Soetomo Kembali Normal Bertahap Pascakebakaran

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa,

Surabaya (mediakorannusantara.com) – Pelayanan di Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo Surabaya mulai kembali berjalan normal secara bertahap pascakebakaran yang terjadi pada Jumat (15/5/2026). Manajemen rumah sakit memastikan layanan kepada pasien tetap berjalan meski sejumlah ruangan masih dalam proses pemulihan dan asesmen kerusakan.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses penanganan kebakaran.

“Untuk seluruh pihak eksternal, BPBD yang sangat cepat untuk datang, Damkar juga membantu evakuasi tentu dipandu oleh dokter-dokter dan kawan-kawan media dan seluruh masyarakat Surabaya,” ujar Prof Cita, usai mendampingi sidak dan hearing bersama Komisi E DPRD Jawa Timur, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, sejak police line dibuka, sejumlah lantai di gedung PPJT telah dibersihkan dan kembali difungsikan. “Alhamdulillah sejak tadi, kemarin, dinyatakan police line dibuka, lantai 1, 2, 3, dan 4 sudah dibersihkan,” katanya.

Menurutnya, pelayanan di beberapa poli jantung Gedung PPJT RSUD Dr Soetomo kini sudah kembali normal. “Lantai 1 untuk poli jantung dewasa sudah berjalan normal, lantai 2 untuk poli jantung anak juga sudah berjalan normal, lantai 3 untuk poli jantung rematik juga berjalan normal,” ungkapnya.

Sementara itu, lantai 4 disebut sudah siap digunakan, namun pasien masih ditempatkan sementara di ruang lain. “Kemudian lantai 4 sudah siap untuk ruangan namun kami masih belum memindah, karena pasien-pasien masih dititipkan sementara di IGD buffer,” jelasnya.

Cita menegaskan pelayanan kesehatan tidak sempat terhenti pascakejadian kebakaran. Layanan emergensi langsung dialihkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), sementara tindakan operasi dipindahkan sementara ke gedung lain.

“Jadi layanan emergensi langsung diambil alih di IGD, kemudian operasi dititipkan di STOC maupun di GBPT. Dan mohon doa, semoga lantai 5 bisa segera dibersihkan,” ucap dia.

Saat ini, Cita menyatakan bahwa manajemen RSUD Dr Soetomo mulai melakukan asesmen terhadap peralatan medis yang berada di area terdampak kebakaran. “Saat ini boleh mengambil alat-alat karena kami harus melakukan asesmen seberapa kerusakannya dan semoga bisa hidup kembali PPJT dengan full di situ semua,” katanya.

Ia menambahkan, layanan sementara masih menyesuaikan dengan ruangan yang dapat digunakan. “Jadi saat ini layanan disesuaikan dengan tempat karena 5, 6, belum bisa dipakai untuk saat ini. Mohon doa semoga semuanya bisa, pemulihannya bisa segera,” ujarnya.

Cita juga menjelaskan fungsi lantai 5 dan 6 Gedung PPJT RSUD Dr Soetomo yang terdampak kebakaran. Dimana lantai 5 yang menjadi lokasi kebakaran merupakan gedung farmasi dan ruang operasi. “Kemudian (lantai) 6 HCU, ICU. Jadi High Care Unit dan Intensive Care Unit kalau habis operasi ke sana,” sebutnya.

Menurutnya, asesmen menyeluruh baru dapat dilakukan setelah area dinyatakan aman untuk dibersihkan.

“Jadi kalau kamar operasinya enggak ada ya enggak mungkin ke sana kan. Jadi sekarang masih didiamkan dulu, nanti begitu boleh dibersihkan maka langsung dilakukan assessment. Semoga alat-alat ada yang masih bisa jalan, yang tidak bisa jalan langsung diperbaiki dan seterusnya,” katanya.

Meski demikian, Cita memastikan pelayanan RSUD Dr Soetomo Surabaya kepada pasien tetap berjalan. “Pelayanan tetap, hanya disesuaikan, tempatnya dititipkan dan itu sudah dilakukan pemberitahuan di media sosial dan juga di beberapa platform media,” ujarnya.

Terkait kabar di media sosial mengenai pasien meninggal akibat kebakaran, Cita meluruskan informasi tersebut dan menjelaskan kondisi pasien sebenarnya.

“Yang jelas untuk yang disampaikan terkait yang meninggal, pasien tersebut adalah pasien push operasi bedah jantung terbuka, dan dua kali operasi ya. Jadi dibawa ke sini karena ada komplikasi harus dioperasi kedua, dan memang kondisinya buruk,” jelasnya.

Ia mengatakan pihak rumah sakit sudah memberikan edukasi kepada keluarga pasien sebelum peristiwa kebakaran terjadi. “Jadi kebetulan jam 1 sudah dilakukan edukasi pada keluarganya terkait kondisi pasien tersebut,” katanya.

Menurutnya, proses evakuasi pasien kritis membutuhkan koordinasi khusus karena pasien masih bergantung pada berbagai alat medis penunjang kehidupan.

“Pada saat jam 6 kejadian memang untuk pasien-pasien yang kritis tentu membutuhkan koordinasi yang lebih baik, sehingga kami tidak bisa langsung bawa gitu ya, dan kemudian dibawa beserta alat-alatnya,” ujarnya.

Cita juga meluruskan informasi terkait listrik yang disebut padam sebelum kebakaran. “Jadi ada beberapa di media menyampaikan lampunya mati maka kebakaran, itu kebalik. Karena kebakaran maka listrik harus dimatikan, gas harus dimatikan, agar api tidak membesar,” tegasnya.

Ia memastikan alat medis pasien tetap berfungsi saat proses evakuasi berlangsung. Nah, ketika listrik mati karena ada insiden kebakaran, maka kemudian alat tersebut akan dialihkan ke switch baterai.

“Jadi kami ini alatnya listrik betul, begitu listrik mati langsung switch ke baterai. Jadi waktu evakuasi tidak ada yang dilepas, dan untuk pasien tersebut memang kebetulan ada topangan tiga alat, yaitu alat dari bantu nafas, ginjal, dengan jantung. Jadi bukan karena asap, apalagi api ya, enggak sama sekali, tapi memang kondisinya,” pungkasnya. (KN01)

Related posts

Datang Ke Papua, Forkompimda Jatim Pompa Semangat Juang Para Atlet Jawa Timur

kornus

Kebijakan Pembebabasan PKB dan BBNKB Berdampak Positif, Diskominfo Jatim Gelar Diskusi Bahas Strategi Penyebaran Informasi

kornus

Departemen Sistem Informasi ITS Raih Piagam MURI di HUT ke-729 Kota Surabaya

kornus