KORAN NUSANTARA
ekbis Hallo Nusantara Headline Jatim Nasional

Optimalkan Pemanfaatan Jargas, BPH Migas Dorong Kesejahteraan Warga Bojonegoro

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas

BOJONEGORO, mediakorannusantara.com – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas (jargas) untuk warga pelanggan rumah tangga dan pelanggan kecil di Bojonegoro, Jawa Timur.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (9/8/2026), mengatakan wilayah Bojonegoro memiliki potensi besar untuk pengembangan jargas, baik melalui skema APBN, dukungan pemerintah daerah melalui APBD, maupun pengembangan jargas mandiri oleh PT PGN (Persero) Tbk.

Menurut Wahyudi Anas, gas bumi merupakan sumber energi yang lebih efisien, aman, dan ekonomis, dibandingkan menggunakan bahan bakar lainnya.

Saat ini pemanfaatan gas bumi di Bojonegoro mencapai sekitar 55 persen dari total alokasi yang tersedia.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang memperluas jumlah sambungan jargas kepada masyarakat.

“Kemudian, asas manfaat ini pasti untuk mendorong efisiensi dalam rangka pembelian bahan bakar,” kata Wahyudi Anas dalam Bimbingan Teknis dan Penyebarluasan Informasi mengenai Pengaturan serta Pengawasan Gas Bumi Melalui Pipa di Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026).

“Dengan total volume (gas bumi) yang sudah dimanfaatkan kurang lebih baru 55 persen dari total alokasi, dan dari sisi penggunaan gas bumi ternyata dapat memberikan efisiensi hampir 45 persen (pembiayaan) dan itu sangat membantu masyarakat,” lanjut Wahyudi Anas.

“Artinya mengurangi cost (biaya) pengeluaran per bulan,” tambah Wahyudi Anas.

Wahyudi Anas juga menambahkan biaya penggunaan jargas yang relatif rendah membuat masyarakat dapat mengalokasikan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan penting lainnya.

Selain digunakan untuk memasak, jargas juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan usaha mikro dan pemanas air.

“Masyarakat pengguna jargas hanya membayar gas bumi (jargas) ada yang kurang lebih Rp25 ribu, ada yang Rp42 ribu, ada yang Rp60 ribu, ada yang Rp70 ribu per bulan, tergantung konsumsinya,” jelas Wahyudi Anas.

“Dan itu sudah bisa digunakan untuk produksi UMKM,” terang Wahyudi Anas.

“Selain digunakan untuk masak, jargas juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemanas air,” tutur Wahyudi Anas.

“Jadi, sangat aman dan optimal,” pangkas Wahyudi Anas.

Sebagai daerah penghasil migas, Bojonegoro layak memperoleh manfaat yang lebih besar dari sumber daya energi yang dimilikinya.

Karena itu BPH Migas bersama Komisi XII DPR akan terus melakukan penyebarluasan informasi agar masyarakat semakin siap memanfaatkan gas bumi melalui jaringan pipa.

“BPH Migas bersama Komisi XII DPR RI ingin terus melakukan sosialisasi ini agar masyarakat lebih siap untuk memanfaatkan menggunakan jargas, untuk mendorong dan mendukung Astacita pemerintah dengan kemandirian energi,” tegas Wahyudi Anas.

“Ini penting, karena sumber energi ada di Bojonegoro dan wajib dimanfaatkan untuk masyarakat Bojonegoro,” sebut Wahyudi Anas.

Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari menilai program jargas telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bojonegoro dan berharap jumlah sambungan jargas dapat terus ditingkatkan.

“Kami ucapkan terima kasih kepada BPH Migas, melihat bagaimana 16.200 sambungan jargas selama ini sudah terpasang di Bojonegoro dan sudah dimanfaatkan dengan maksimal,” ujar Ratna Juwita Sari.

“Kami mewakili masyarakat Bojonegoro, mohon dukungannya supaya bisa ditambah lagi (sambungan jargas) dan bisa membantu perekonomian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum melalui support BPH Migas yang sangat luar biasa,” kata Ratna Juwita Sari.

Di wilayah Bojonegoro, jargas telah beroperasi di Kecamatan Bojonegoro, Ngasem, dan Gayam, yang menjadi bagian dari wilayah operasional PGN Sales and Operation Regional (SOR) III.

General Manager PGN SOR III Hedi Hedianto menyatakan pihaknya berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah dengan menjaga keandalan pasokan, infrastruktur, dan pelayanan kepada pelanggan.

“Ini adalah sinergi pemerintah termasuk BPH Migas, pemerintah daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat, sehingga kami bisa menjalankan penugasan dari pemerintah untuk menyalurkan gas bumi melalui pipa kepada masyarakat,” ucap Hedi Hedianto.

“Melalui peranan dalam menjaga keandalan pasokan, infrastruktur gas bumi, dan pelayanan kepada masyarakat, kita bersama-sama memastikan pelayanan terbaik untuk mendukung asta cita pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional,” lanjut Hedi Hedianto.

Suharsini (54), pengguna jargas rumah tangga, menyatakan penggunaan gas bumi memudahkan aktivitas sehari-hari dan mengurangi kekhawatiran akan ketersediaan LPG.

“Satu hari itu saya lima kali memasak air panas, dan kita nggak usah bingung cari gas (tabung) kalau ada kelangkaan,” kata Suharsini.

“Sejauh ini jargas PGN tidak ada kendala dan harganya menurut saya sudah imbang Rp4.250 per meter kubik,” sebut Suharsini.

Pelaku usaha mikro Dwi Merawati (46) juga mengaku pengeluaran usahanya menjadi lebih hemat sejak menggunakan jargas.

“Untuk harganya (jargas) tiap bulan habis sekitar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu,” terang Dwi Merawati.

Sementara itu Ahmad Arief Mardianto (48), pengguna jargas jenis pelanggan kecil di sebuah restoran cepat saji, menyampaikan biaya operasional usahanya turun cukup signifikan setelah beralih dari LPG ke jargas.

“Dulu pakai gas tabung pengeluaran rata-rata Rp8,3 juta, setelah pakai jargas dengan harga per meter kubik Rp10 ribu, kita bisa saving (hemat) dengan per bulan habis rata-rata Rp5,5 juta,” ungkap Ahmad Arief Mardianto.

“Dan dari segi keamanan, jargas lebih aman tinggal narik tuas saja itu sudah bisa lancar,” tutup Ahmad Arief Mardianto.(wa/an)

Related posts

Support UMKM Berbasis Pertanian, Arumi Bachsin Serahkan Bantuan 2 Unit Handtractor Bagi Petani Kediri

kornus

SKPD Pemprov Jatim Diminta Umumkan Pengadaan Barang Mulai 1 Desember

kornus

Komisi II DPR minta BPK audit dana hibah pemilu dan pilkada