KORAN NUSANTARA
Hallo Nusantara Headline

MUI Larang Aksi Sweeping Warung Makan dan Minta Masyarakat Saling Menghormati

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis

Jakarta, mediakorannusantara.com-Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis meminta masyarakat untuk tidak melakukan aksi sweeping atau razia sepihak terhadap warung makan yang tetap beroperasi selama bulan Ramadhan. Ia menegaskan ketidaksetujuannya terhadap aksi-aksi tersebut dan mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran dalam mengatur teknis di lapangan.

“Saya tidak setuju adanya sweeping-sweeping di bulan Ramadhan, hanya saja kami minta kepada pemerintah setempat agar diatur di tempat-tempat orang berpuasa, hormati orang berpuasa,” ujar Cholil dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, Cholil mengingatkan umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa agar tidak terdorong melakukan tindakan main hakim sendiri. Ia menekankan bahwa tugas utama umat saat ini adalah memperkuat diri serta saling menghargai antarsesama, baik yang sedang berpuasa maupun yang tidak.

“Jangan sampai melakukan kemungkaran, karena tugasnya bukan men-sweeping, cukup perkuat diri kita, tetapi kita saling menghargai (orang) berpuasa dan tidak berpuasa,” tambahnya.

Cholil juga mengharapkan adanya sinergi dari pemerintah daerah untuk mengatur operasional warung makan agar tetap menjaga kekhusyukan tanpa menghambat warga yang mencari rezeki. Menurutnya, pemahaman dari pemerintah setempat sangat penting agar kondisi di tengah hari tetap kondusif bagi umat yang beribadah.

“Tapi ini harus dimengerti oleh pemerintah setempat/daerah agar diatur warung-warung yang buka tengah hari di bulan Ramadhan agar menjaga kondusivitas, kekhusyuan puasa, dan menghormati orang yang berpuasa,” kata dia.

Senada dengan semangat menjaga harmoni, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan bulan suci ini sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial. Ia yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI menyatakan bahwa dampak Ramadhan harus terasa secara kolektif dalam memperkuat solidaritas bangsa.

“Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan merawat harmoni kebangsaan. Ia bukan sekadar ibadah individual, tetapi madrasah ruhani yang membentuk kepedulian, empati, dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” pungkas Menag.( wa/ar)

Related posts

Kehadiran Feeder Justru Meningkatkan Taraf Ekonomi Pengemudi eks MPU

kornus

RUPST 2025, SIG Tambah Lini Usaha Baru untuk Peningkatan Daya Saing dan Kinerja Jangka Panjang 

kornus

Tim Arkeolog Diminta Ungkap Peradaban Kuno di Sambimaya