KORAN NUSANTARA
indeks Jatim

Moralitas dan Etika Jadikan Guru Profesional

Banyuwangi (KN) – Guru merupakan basis terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu dibutuhkan adanya moralitas dan etika untuk dapat menjadikan guru profesional, karena tugas guru adalah mengantarkan murid ke masa depan yang lebih baik. Moralitas dan etika menjadi jati diri bagi para guru. Dalam hal ini, ada hijrah pemikiran dari guru seadanya menjadi sangat profesional.

“Kalau moralitas dan etikanya pada guru tidak ada, maka pendidikan yang baik tidak akan terwujud,” ujar Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat Apel Akbar Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Ke-67 Kabupaten Banyuwangi di Taman Blambangan Kabupaten Banyuwangi, Minggu (25/11).

Ia mengatakan, salah satu penerapan moralitas dan etika yakni guru mampu melibatkan hatinya, menyentuh dan memahami hati para murid saat mengajar. Guru yang baik adalah yang dapat menyentuh fisik dan hatinya murid, jangan diserahkan kepada internet atau website. Wujud nyatanya dapat dilihat pada pendidikan diniyah salafiyah, dimana para guru dapat menyentuh hati dan fisik para santrinya.

“Jika para guru menerapkan moralitas dan etika pada murid, maka dapat terwujud profesionalisme. Guru yang profesional dapat menjadikan murid cerdas dan proses pembelajaran diterima lebih baik oleh para murid. Dari pendidikan yang bagus, dapat menjadikan pembangunan daerah yang bagus pula,” kata Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim.

Lebih lanjut disampaikannya, para guru akan lebih maju lagi jika dapat memegang teguh kultural, moralitas, dan etika. Kemampuan memegang ketiga hal tersebut dapat menjadikan pendidikan lebih baik. Untuk itu, Pakde Karwo setuju jika kode etik guru dapat diterapkan kepada para guru dan membentuk dewan kehormatan guru untuk mengawasi etika para guru. “Guru yang profesional, jangan sampai guru sejarah mengajar matematika. Kompetensi itu adalah science, yang mendasari adalah kode etik,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) terus memperjuangkan kesejahteraan anggotanya. Sehingga PGRI terdapat perkembangan dan bermanfaat bagi anggotanya. “PGRI memperjuangkan hal kesejahteraan bagi anggotanya. Apalagi bupati/walikota sangat kompak dengan PGRI. Ini tanda-tandanya kesejahteraan mulai terwujud,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, S.Sos mengatakan, peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Ke-67 kali ini, para guru diharapkan dapat menjadi profesional, bermartabat, dan sejahtera. Sehingga para guru dapat menjadikan para murid cerdas dan berkarakter unggul. “Cerdas yang dimaksud yakni cerdas secara intelektual, emosional, spiritual, dan kinestetik,” tuturnya.

Ia melaporkan kondisi kemajuan pendidikan di Kabupaten Banyuwangi. Indeks pendidikan Kab. Banyuwangi merupakan yang tertinggi dibandingkan 4 kabupaten di sekitarnya. Pada tahun 2007-2010, indeks pendidikan Kab. Banyuwangi mencapai kisaran 72-73. Pada tahun 2011-2011, indeks pendidikan mengalami peningkatan menjadi 74. Angka melek huruf juga mengalami peningkatan yakni tahun 2007-2010 berada di kisaran 86,4-86,6, sedangkan tahun 2011-2012 mencapai 87,8.

Selain indeks pendidikan dan angka melek huruf, rata-rata lama sekolah di Banyuwangi juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2007-2010, rata-rata lama sekolah sekitar 6,6-6,8 tahun. Sedangkan tahun 2011-2012 mencapai 6,9 tahun. Hal ini dapat tercapai karena Pemkab Banyuwangi menjadi pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan, serta menyadari bahwa investasi sumber daya manusia (SDM) di masa depan.

Disampaikannya, Pemkab Banyuwangi telah mengalokasikan anggaran paling besar pada bidang pendidikan. Dari APBD Kab. Banyuwangi tahun 2011 Rp 1,63 triliun, dialokasikan untuk anggaran sebear Rp 561,2 miliar (34,4 persen). Tahun 2012 mengalami peningkatan signifikan yakni APBD Kab. Banyuwangi Tahun 2012 sebesar Rp 1,86 triliun dialokasikan untuk pendidikan sebesar Rp 791,4 miliar (42,5 persen). “Anggaran pendidikan jauh melampaui alokasi untuk urusan lainnya,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Pakde Karwo dan Wabup Banyuwangi menyerahkan santunan kepada 105 anak yatim piatu yang secara simbolis diserahkan kepada 10 anak yatim piatu. Selain itu, juga diserahkan bantuan kepada 10 orang guru tidak tetap (GTT) daerah terpencil di Banyuwangi. (yo)

Related posts

kornus

Surabaya Raih Anugerah Parahita Ekapraya 2012 Kategori Utama

kornus

Terima Tambahan Vaksin 21.770 Vial, Pemkot Surabaya Bakal Tuntaskan Vaksin untuk Pedagang, Guru dan Dosen

kornus