
.Surabaya (mediakorannusantara.com) – Komisi E DPRD Jawa Timur menyoroti pentingnya penguatan mitigasi risiko kebakaran di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang setelah insiden kebakaran melanda instalasi gizi rumah sakit tersebut, Rabu (9/9/2026).
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Direktur RSSA terkait kebakaran yang terjadi di area dapur gizi. Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penelusuran.
“Sampai hari ini hasil koordinasi kami dengan Direktur RSSA belum ditemukan penyebab. Tapi karena itu kan di instalasi gizi ada kerusakan. Mungkin dapur begitu dan barang sediaan habis pakai. Kerugiannya kalau enggak salah Rp900 jutaan. Tidak ada korban jiwa dan luka-luka,” kata Hikmah di Gedung DPRD Jatim, Kamis (10/9/2026).
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, Hikmah meminta manajemen rumah sakit memperkuat mitigasi risiko. Menurutnya, rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan publik yang menyediakan layanan dasar kesehatan dan di dalamnya terdapat pasien yang membutuhkan penanganan khusus.
“Kami tadi pesankan ke Pak Direktur sekalipun ini belum terungkap penyebabnya apa, tapi patut diduga karena mitigasi resiko soal kebakaran kurang begitu diperhatikan,” ucapnya.
Ia menegaskan penguatan mitigasi tidak hanya diperlukan untuk menghadapi risiko kebakaran, tetapi juga berbagai potensi bencana lain di fasilitas pelayanan publik.
“Ke depan karena ini tempat-tempat layanan publik kayak gini ini sangat-sangat penting untuk betul-betul menjaga dan memitigasi resiko dari bencana apapun termasuk kebakaran,” tegasnya.
Hikmah menyebut insiden di RSSA perlu menjadi perhatian karena sebelumnya kebakaran juga terjadi di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Menurutnya, lokasi kebakaran di rumah sakit memiliki tingkat risiko berbeda karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. “Yang (sebelumya) terjadi di RSUD Dr Soetomo lebih (bahaya) lagi kan di instalasi jantung,” imbuhnya.
Namun, ia menilai kebakaran di instalasi gizi RSSA juga berdampak terhadap operasional rumah sakit, terutama pemenuhan makanan bagi pasien. “Kan ini (RSSA) juga gizi, tempat anak-anak juga banyak. Nah, lebih akhirnya yang mengganggu itu per makanan,” tuturnya
Karena dapur gizi belum dapat kembali berfungsi normal, Hikmah menyebut, sebagian besar kebutuhan makanan pasien untuk sementara dipenuhi melalui katering pihak ketiga. “Jadi terpaksa sebagian besarnya di cateringkan, jadinya sambil menunggu dapur ini berfungsi sebagaimana mestinya,” sebutnya.
Hikmah mengatakan terdapat ruang rawat anak yang sempat terdampak asap, tetapi pasien dapat segera dialihkan. Menurutnya, pemulihan fungsi instalasi gizi menjadi salah satu hal yang perlu segera dilakukan.
“Ada ruang rawat anak yang memang kena tapi segera bisa dialihkan. Yang urgent kan dapur, instalasi gizi itu menyangkut dapur,” kata dia.
Ia juga mengingatkan manajemen RSSA agar memperhatikan standar makanan pasien selama menggunakan jasa katering pihak ketiga. Hal itu dinilai penting karena makanan pasien rumah sakit memiliki kebutuhan yang berbeda dengan konsumsi masyarakat umum.
“Sementara sampai dapur difungsikan kembali secara darurat. Kan tidak ada pilihan, karena pasien sedemikian banyak. Tadi saya sudah menyampaikan mewanti-wanti karena pakai catering dari pihak ketiga harus hati-hati dari sisi standar rumah sakit dan luar rumah sakit kan berbeda ya,” jelas dia.
Selain standar makanan, Hikmah juga meminta aspek pembiayaan juga diperhatikan, termasuk kesesuaiannya dengan cakupan pembiayaan BPJS Kesehatan. “Dari aspek harga ya kita enggak tahu ini kan harus disesuaikan dengan coverage-nya BPJS juga,” pesannya.
Terkait pengamanan di area dapur, Hikmah mengatakan risiko bencana dapat terjadi karena berbagai faktor. Karena itu, rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan publik harus memiliki mitigasi risiko yang lebih kuat.
“Namanya bencana ya bisa terjadi karena banyak sebab. Cuma sekali lagi ini public space ya dan layanannya layanan dasar kesehatan. Ada pasien di situ. Jadi memang harus ekstra. Mitigasi resikonya itu harus ekstra,” tambahan.
Sementara di tempat terpisah, Direktur RSSA Malang, dr. Mochamad Bachtiar Budianto mengatakan, kebakaran pertama kali terdeteksi sekitar pukul 14.50 WIB di Dapur Gizi RSSA. Rumah sakit kemudian mengaktifkan sistem tanggap darurat atau code red untuk menangani kejadian tersebut.
Penanganan juga melibatkan Pemadam Kebakaran Kota Malang dengan mengerahkan tujuh mobil pemadam kebakaran. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.40 WIB.
“Penyebab dari kebakaran sampai saat ini masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang, namun dugaan sementara berasal dari hubungan pendek arus listrik yang berada di atap ruang dapur RSSA,” ujar Bachtiar dalam siaran persnya.
Bachtiar juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kebakaran juga tidak memberikan dampak langsung terhadap pasien yang sedang menjalani perawatan di RSSA. “Area kebakaran sekitar 300 m2 dengan kerugian yang timbul atas kejadian ini diperkirakan sekitar Rp.900 juta,” katanya.
Selain itu, manajemen RSSA juga melakukan langkah cepat terhadap dua ruang rawat inap yang terdampak asap, yakni ruang rawat inap khusus anak serta ruang rawat inap khusus ibu atau wanita. “Untuk ruang rawat inap khusus anak telah dimigrasikan/dipindahkan ke ruang yang lebih safety dari asap,” lanjut Bachtiar.
Sementara pasien yang berada di ruang rawat inap khusus ibu atau wanita, telah kembali seluruhnya ke ruang perawatan semula.
Bachtiar menambahkan bahwa untuk sementara RSSA bekerjasama dengan katering untuk pemenuhan makan dan minum pasien. Sebab, lokasi kebakaran berada di Dapur Gizi.
“Manajemen RSSA memastikan dengan adanya kejadian ini, tidak mengganggu pelayanan terhadap pasien baik pasien-pasien yang sedang dirawat (IGD dan rawat inap) maupun pasien-pasien rawat jalan yang akan berobat di RSSA,” tutupnya. (KN01)
