Surabaya (MediaKoranNusantara.com) – Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini Hijriah, Dinas Peternakan (Disnak) Jawa Timur tidak menggelar bazar hewan ternak seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dilakukan untuk menerapkan physical distancing. “Tahun ini kami tidak menggelar bazaar hewan kurban, alasannya menerapkan sosial distancing,” kata Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Wemmi Niamawati, Minggu (12/7/2020).Dikatakan Wemmi, pihaknya akan memaksimalkan penjualan hewanh kurban melalui media online. Hal itu tentunya untuk menghindari kerumunan massa. “Kami ingin memaksimalkan para pedagang untuk menggunakan penjualan secara online, karena lebih aman dalam masa pandemi ini” ujarnya.
Selama Januari hingga saat ini, lanjut Wemmi, permintaan daging sapi tidak mengalami penurunan dampak pandemi Covid-19. Menurutnya, hampir tiap hari Rumah Potong Hewan (RPH) melakukan pemotongan.
“Tiap hari Rumah Potong Hewan (RPH) melakukan pemotongan. Permintaan daging sapi tidak mengalami penurunan. Mungkin kalau khusus pemotongan hewan kurban bisa jadi menurun karena daya beli masyarakat juga menurun,” terangnya.
Disnak Jatim juga memastikan Covid-19 tidak menular ke hewan ternak. Meski begitu, baik pedagang maupun penyembelih harus memperhatikan protokol kesehatan dengan menggunakan APD. Seperti masker, apron dan sarung tangan.
“Yang menular adalah penyakit antraks. Meski demikian memang ada perbedaan antara tahun ini dengan sebelumnya. Ini karena ada pendemi Covid-19, jadi yang disertai surat kesehatan bukan hanya hewan kurbannya saja namun harus pedagang maupun penyembelihnya juga harus memiliki surat keterangan sehat. Cukup dari Puskesmas tidak perlu rapid test. Tapi kalau mau rapid test malah lebih bagus,” jelasnya.
Dikatakan Wemmi, sebelum dilakukan pemotongan hewan pihaknya selalu melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem. Misalkan saja, umur kambing yang pas untuk disembelih adalah umur satu tahun sedangkan sapi umur dua tahun.
“Yang membedakan lagi tahun ini adalah para penjual hewan kurban harus menerapkan physical distancing. Selain itu harus memiliki izin dari pemkot atau pemkab setempat, kalau kesulitan cukup dari kecamatan. Dan terakhir ada izin sanitasi,” tandasnya.
Wemmi mengatakan, stok ternak untuk pemotongan kurban, sapi sebanyak 56.160 ekor, dibandingkan tahun 2019 sebanyak 63.000 ekor, dan stoknya saat ini sebanyak 529.346 ekor. Sedangkan kambing ketersediaannya 2,1 juta ekor.
“Untuk pemotongan harian mencapai 1.000.117 kambing selama setahun. Dan ini bisa menyuplai keluar provinsi sebanyak 180.000 ekor. Sementara untuk kurban tahun ini kami menyediakan 270.000 ekor kambing, pada tahun 2019 kami menyiapkan 300.000 ekor kambing, sedangkan domba sebanyak 68.000 ekor,” katanya. (KN01)
