KORAN NUSANTARA
indeks Jatim

Gubernur Soekarwo Sikapi Makna Reformasi Yang Saat Ini Melenceng Dari Semangat Reformasi

gubernur-jatim Surabaya (KN) – Gubernur Jatim Soekarwo menyikapi makna reformasi saat ini yang cenderung melenceng dari semangat reformasi yang didegungkan sejak 13 tahun lalu. Melencengnya reformasi ini dikarenakan adanya dampak tsunami liberalisme yang sangat luar biasa yang terjadi di semua politik transaksional.

Gubernur Jatim Soekarwo yang akrab dipanggil dengan sebutan Pakde Karwo ini dalam sambutanya pada acara pendidikan kebangsaan di Balai Pemuda Surabaya, Senin (6/6) malam mengatakan, sejak adanya reformasi yang melenceng, makna dan keberadaan Pancasila saat ini tidak sepenuhnya berfungsi secara optimal.

“Saya galau sejak reformasi ini, dimana sebetulnya Pancasila itu, kita cari dimana ternyata dia ada di lorong yang kelam, sempit, dan sendirian. Saya tanya mengapa anda (Pancasila, red) dilorong yang sempit dan gelap seperti ini. Kenapa takut reformasi, karena reformasi yang dibawa mahasiswa pada 13 tahun terakhir ini cenderung melenceng,” tuturnya.

Kenapa melenceng, lanjut Pakde Karwo, dikarenakan adanya dampak tsunami liberalisme yang luar biasa, mulai politik di semua transaksional. “Ada tsunami yang luar biasa, sehingga Pancasila tenggelam sendirian, ditempat yang kumuh dan gelap. Pancasila terkena gelombang tsunami liberalisme maupun politik transaksional,” katanya.

Menurutnya, hal itu dinilai sangat luar biasa, akan tetapi karena Pancasila pada setiap sejarahnya selalu muncul, maka Pancasila merupakan bagian yang merekat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kebhinekaan. “Dia (Pancasila, red) tidak bisa berdiri sendiri. Jika kemudian NKRI itu ada kalau Pancasila tidak ada. Begitu juga, tidak ada kemudian kebhinekaan itu ada kalau kemudian Pancasila tidak ada,” ujarnya.

Karena itu, kalau tidak berpegangan pada Pancasila pastinya NKRI juga tidak ada. Tentunya, jika tidak berpegangan Pancasila maka akan ada kemungkinan sebuah berdirinya negara kecil-kecil dan terpecah-pecah. “Tapi karena ada sejarah ini, maka  masyarakat bangsa ini memerlukan Pancasila. Saya kira saat ini yang tepat disampaikan oleh narator bahwa semua permasalahan di mulai dari keadilan,” paparnya.

Selain itu, sekarang ini pada political action harus dilakukan konkritnya bagaimana penghijauan dari Pancasila keseharianya. “Saya kira salah satunya bagiamana pemikiran-pemikiran yang jumlahnya banyak itu harus kita ubah pada posisi nilai tentang sila Pancasila itu menjadi sebuah basis,” tambahnya.

Tidak itu saja, bagaimana disparitas yang terjadi di Jatim semakin berkurang. “Jangan sampai kita gila di dalam pembangunan itu hanya pertumbuhan saja. Akan tetapi, disparitas juga menjadi bagian ukuran dalam kinerja,” tandasnya. (anto)

Foto : Gubernur Jatim Soekarwo

Related posts

Biaya Tambahan Dalam Pembayaran Rekening Air PDAM Sebesar Rp 2500 Digugat Dewan Pelanggan

kornus

Revitalisasi Sungai Brantas, Pemprov Kolaborasi dengan 8 Perguruan Tinggi di Jatim

kornus

Pasien Sembuh dari Covid-19 di Jatim Bertambah 97 Orang

kornus