KORAN NUSANTARA
indeks Jatim

Dinkes Jatim: Tuberkolosis Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat di Jawa

logo jatimSurabaya (KN)- Pemerintah Provinsi Jatim melalui Dinas Kesehatan mengimbau agar masyarakat tidak malu dan malas memeriksakan diri jika selama dua minggu mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh. Imbauan ini diberikan karena ditakutkan terjadi Tuberkolosis (TB) pada tubuh.
“Jangan sampai semakin parah, selama dua minggu batuk tidak sembuh, segera periksakan diri ke dokter atau puskesmas, karena ditakutkan terkena tuberkolosis,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, dr Dodo Andono di kantornya, Kamis (24/3).
Menurutnya, tuberkolosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Jawa Timur, karena jumlahnya yang sangat besar (37.236 kasus di tahun 2010) yang banyak menyerang masyarakat miskin. Penyakit ini merupakan penyebab kematian ke tiga untuk segala kelompok umur setelah penyakit jantung dan pembuluh darah, dan penyakit saluran nafas yang lain. “Di antara penyakit infeksi, penyakit TB penyebab kematian nomor satu,” katanya.
Sementara Indonesia merupakan penyumbang ke lima di dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan, dan Nigeria, dengan jumlah estimasi kasus sebesar 528.000 (laporan WHO 2009). Sedangkan Jatim merupakan provinsi dengan penderita TB yang diobati nomor dua terbanyak di Indonesia di bawa Jawa Barat.
Ia menambahkan, pada 2010 pasien TB yang diobati di Jawa Timur sebanyak 37.236, Dari jumlah tersebut 23.230 adalah kasus menular. Kasus TB pada anak sebanyak 1.304, dan jumlah perempuan yang sakit TB sebanyak 15.803. “Banyaknya jumlah kasus ini karena masyarakat mulai sadar untuk memeriksakan kesehatannya, buka semata-mata karena perkembangannya yang semakin meluas,” tuturnya.
Hingga saat ini, Pemprov Jatim melakukan beberapa program untuk menyosialisasikan bahaya TB, yakni melatih dan menyiapkan seluruh Puskesmas, tiga balai pengobatan dan pemberantasan penyakit paru/BP4, empat RS khusus paru/kuasta, dan 170 RS pemerintah/swasta, dan balai pengobatan swasta untuk memberikan pelayanan pengobatan TB dengan standar WBO, yaitu Directly Observed Treadment Shortcouse (DOTS).
Selain itu, pemprov juga mengembangkan program TB di rumah sakit dengan membuat jejaring antara rumah sakit, dinas kesehatan kabupaten/kota dan Puskesmas yang dikemas dalam program Hospital DOTS Linkage (HDL). Melakukan upaya pengendalian TB-HIV secara terpadu, melaksanakan pengobatan TB yang kebal obat lini pertama di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Malang Raya serta mengembangkan ke seluruh wilayah lain di Jatim.
“Kami juga telah melakukan kerjasama dengan LSM peduli TB, yaitu Muhammadiyah/Aisiyah, LPK-NU, FHI, Organisasi Profesi, dan LSM lainya untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang bahayaTB dan upaya pengobatannya,” terangnya.(rif)

Related posts

Panglima TNI : Foto Simbol Ibu Jari dan Jari Telunjuk Tidak Terkait dengan Capres

kornus

BNN Amankan Sabu 212 Kg di Aceh

Respati

Komisi DPRD Jatim Minta Pembelajaran Tatap Muka Tetap Dilaksanakan

kornus