KORAN NUSANTARA
Headline indeks Jatim

Dinkes Jatim Insentifkan Pengobatan TBC Gratis

harsono-kadinkes-jatimSurabaya (KN) – Mulai tahun depan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim siap mengintensifkan pengobatan Tubercolusis (TB) gratis ke daerah-daerah guna menurunkan jumlah penderita.“Kami akan menggandeng Dinkes kabupaten/kota dan Puskemas untuk mencari serta mengobati penderita TB, sehingga jumlahnya turun,”kata Kepala Dinkes Jatim, dr Harsono di Surabaya Senin (8/12/2014).

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 38 juta jiwa, penyebaran penyakit di Jatim sangat tinggi, ini dipengaruhi perilaku hidup sehat masyarakat Jatim belum semuanya baik. Menurut Harsono, banyak penyakit yang terjadi di masyarakat sebagian besar disebabkan rendahnya tindakan preventif (pencegahan) masyarakat.

“Kebanyakan masyarakat malakukan tindakan kuratif atau pengobatan jika sakit, padahal yang benar adalah pencegahan, karena lebih gampang dibanding mengobati,” tuturnya.
Lebih lanjut dikatakannya, hasil evaluasi diketahui, Surabaya menjadi kota terbanyak penderita penyakit TB pada tahun 2013 dengan jumlah penderita sebanyak 4.336 orang. Kemudian disusul Kabupaten Jember 3.104 penderita dan Banyuwangi 1.689 penderita. “Surabaya yang memiliki jumlah penduduk terbesar disbanding daerah lain sehingga daerah paling rawan TB,”jelasnya.

Indikasi daerah rawan penyebaran penyakit bisa dilihat dari, kerapatan wilayah, kepadatan penduduk, dan buruknya lingkungan.”Kondisi itu memperburuk keadaan rawan TB,” terangnya.

Harsono menambahkan, dari jumlah total penderita di Jatim sebanyak 42.222 orang, 2.342 di antaranya merupakan anak-anak. Sementara sebanyak 1.308 orang meninggal karena TB. “Untuk segala usia yang berhasil kami tangani mencapai 89 persen pada 2013. tahun ini kami tingkatkan jadi 90 persen,” ujarnya.
Sementara Kepala Seksi (Kasi) Pemberantasan Penyakit Dinkes Jatim Setyo Budiono menyatakan, penularan penyakit TBC sangat cepat dan cukup berat menghilangkan penyakit TBC di masyarakat, karena selain faktor perilaku, lingkungan juga turut mendukung penyebaran dan perkembangbiakkan bakteri TBC.

Mudahnya perkembangan bakteri TBC disebabkan karena kondisi lingkungan yang tidak sehat seperti, kurangnya ventilasi udara dan cahaya matahari ke dalam rumah, ruangan atau rumah dalam kondisi lembab, dan sanitasi kurang baik.“Jika rumah selalu tertutup rapat tanpa ada sinar matahari yang masuk maka bakteri akan cepat berkembang, itu yang menyebabkan penyebaran penyaki,” jelas Harsono. (rif)

Related posts

Warga Pendatang Serahkan Senjata Api Ruger Kepada Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 411 Kostrad

kornus

Para Kepala Suku di Penggunungan Tengah dukung Otsus Diperpanjang

500 RW Lolos Verifikasi Tahap 1 Surabaya Smart City 2022

kornus