
Bali, mediakorannusantara.com- Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menegaskan bahwa pencapaian dan penghargaan inovasi daerah bukanlah titik akhir dari sebuah kreativitas
Dalam audiensi bersama Pemerintah Kabupaten Klungkung di Bali pada Selasa, Yusharto menekankan bahwa setiap pemenang inovasi harus sudah mulai merencanakan langkah terobosan berikutnya karena esensi inovasi adalah proses yang tidak pernah mati.
Yusharto menjelaskan bahwa keberhasilan meraih penghargaan seharusnya menjadi pemantik untuk menciptakan solusi yang lebih segar. Ia memaparkan konsep kurva S inovasi, di mana setiap program memiliki siklus pertumbuhan hingga mencapai titik jenuh atau kematangan.
Jika daerah membiarkan inovasi berhenti pada titik tersebut tanpa membuka “jendela inovasi” baru yang saling terhubung, maka manfaat dari program tersebut akan hilang ditelan zaman.
Sebagai contoh nyata, Yusharto menyebut Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah yang berhasil membangun ekosistem inovasi berkelanjutan.
Di sana, satu inovasi tidak berdiri sendiri dalam satu perangkat daerah, melainkan dikembangkan dan dikaitkan dengan program lain hingga menjadi budaya organisasi.
Selain itu, ia juga mencontohkan inovasi “Gempa Genting” dari Kota Mojokerto yang awalnya berfokus pada penanganan stunting melalui pengelolaan sampah, namun kini meluas hingga mencakup aspek peningkatan ekonomi masyarakat.
Khusus untuk Kabupaten Klungkung, BSKDN mendorong agar inovasi yang telah mendapatkan pengakuan terus ditingkatkan kualitas dan dampaknya.
Yusharto menekankan pentingnya keterlibatan kepemimpinan daerah, akademisi, dan masyarakat agar inovasi tidak sekadar menjadi program formalitas, melainkan bagian integral dari tata kelola pemerintahan.
Melalui konsistensi ini, diharapkan pemerintah daerah mampu menghadirkan solusi yang relevan dan berkelanjutan bagi kebutuhan masyarakat luas.( aw/ar)
