Surabaya (KN) – Petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) DPRD Surabaya dan petugas Kepolisian merasa kecolongan dengan jumpa pers yang dilakukan oleh masa Aksi Surabaya Menggugat (ASM).
Acara Senin (26/3) siang itu menggunakan ruang Badan Kehormatan DPRD Surabaya dan acara itu dianggap tak berizin. Saat acara itu akan dimulai, petugas Pamdal (komandan) sibuk menanyakan izin tersebut. Pasalnya dalam pertemuan itu memang tak melibatkan anggota DPRD Surabaya.
“Kami dapat perintah dari Pak Wishnu (WW, pimpinan dewan, red), kalau tak ada anggota dewannya sebaiknya pertemuan itu dilakukan di ruang pers saja,” ujar salah satu petugas Pamdal.
Namun pihak ASM bersikeras memanfaatkan ruang itu, mengingat kapasitas ruang pers sangat sempit. “Pak kami ini rakyat, kami berhak menggunakan fasilitas gedung milik rakyat ini,” teriak Basuki dari ASM dengan nada keras.
Di ruang itu beberapa anggota Intel Polisi juga tak bisa berbuat apa-apa. Sementara pertemuan itu tetap dilakukan untuk memberikan keterangan pers seputar aksi penolakan kenaikan harga BBM, besok. Acara itu pun dilanjutkan hanya beberapa menit.
Usai memberikan keterangan pers, beberapa anggota polisi dari satuan Pam Obvit Polda Jatim didampingi anggota Pamdal tiba di ruangan BK, namun acara ASM itu sudah bubar. Begitu juga Wakil Kepala Polsek Genteng AKP Rasyad, kecele lantaran acara itu sudah rampung.
Padahal rencananya petugas kepolisian berniat membubarkan acara tersebut.
Sementara, petugas kepolisian pun memanfaatkan ruang itu untuk berkoordinasi. Informasinya, AKP Rasyad mengamuk karena merasa kecolongan atas pengamanan ruang Badan Kehormatan DPRD Surabaya kepada para anggotanya. (Jack)
