KORAN NUSANTARA
ekbis indeks Jatim

Aprindo Jatim Mulai Antisipasi Masuknya Peritel Asing

Surabaya (KN) – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur (Jatim) kini mulai antisipasi pengusaha ritel asing yang masuk di sektor ritel modern dengan meningkatkan keahlian teknologi informasi (TI) dan sumber daya manusia (SDM).“Masuknya asing di sektor ritel sudah tidak bisa dihindari. Bahkan, untuk pemain ritel hypermarket, supermarket dan minimarket, sebagian besar adalah ritel asing. Untuk itu, perlu campur tangan pemerintah dan asosiasi untuk membantu ritel lokal bisa berkembang dengan meningkatkan keahlian teknologi dan SDM. Karena inilah yang dimiliki oleh pemain asing yang masuk di Jatim, selain itu juga dana yang cukup besar,” terang Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim Abraham Ibnu, di Surabaya, Jumat (16/12).

Upaya tersebut perlu dilakukan mengingat akan lebih banyak lagi pemain asing yang akan masuk ke industri ritel Pada tahun depan, minimal ada tiga brand baru dari luar negeri yang akan masuk pasar Jatim. Yaitu, Lowson dari Jepang yang akan berkolaborasi dengan PT Midi Utama Indonesia, Family Mart dari Jepang yang akan bermitra dengan PT Wings, dan Metro AG dari Jerman.

“Kalau Metro AG mungkin akan menjadi PMA atau bisa menjadi PMDN dengan menggandeng pengusaha lokal. Tapi yang jelas di tahun depan mereka akan masuk Jatim,” ujarnya.

Abraham menambahkan, kelemahan pemain lokal dalam bisnis ritel lebih dilini keahlian teknologi dan SDM. Dan ini yang harus diberbaiki agar mereka bisa lebih berkembang dan mampu bersaing dengan pemain ritel asing. “Sebenarnya kalau mereka paham, penggunaan teknoligi ini tidak membutuhkan dana yang cukup besar, karena tidak faham, akhirnya mereka tidak menerapkan sistem teknologi karena khawatir investasi yang harus dikeluarkan cukup besar,” tambahnya. Dengan kondisi tersebut, tidak heran jika pemain lokal yang mampu bersaing hanya sedikit.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan, pertumbuhan sektor ritel terus stabil tiap tahun.Industri ritel rata-rata tumbuh 12% per tahun. Saat krisis global 2008 silam, industri ini memang hanya tumbuh sebesar 6%. Namun, industri ritel menjadi benteng Indonesia dari krisis dengan fokus pada konsumsi domestik yang tinggi. “Industri ritel memang menjadi benteng Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi global,” ujar Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan beberapa waktu lalu.

Namun, Gita mengaku, pelaku usaha ritel selama ini masih terganjal oleh suku bunga pinjaman yang tinggi sekitar 12%-16%. Hal itu membuat ekspansi peritel tertahan. Kondisi berbeda terjadi di Malaysia, di mana peritel menikmati bunga 2%-4%. “Pemerintah Daerah (Pemda) juga seharusnya bisa mempermudah perizinan untuk mendorong pertumbuhan sektor ritel,” ujar Gita. (ms)

Foto : Paritel

Related posts

Delegasi Jiangmen Pelajari Simtem Adminitrasi Pendidikan di Surabaya

kornus

Pemkot Harus Segera Mengatur Data gakin dan Berantas Makelar SKTM di RSUD dr Soewandi

kornus

Keinginan Pemkot Kelola KBS Belum Jelas

kornus