Menko Infra Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan keterangan pers saat menghadiri Rapat Dewan Pakar IKA UNAIR di Kantor Rektorat UNAIR Surabaya, Selasa (23/6/2026) malam.
Surabaya (mediakorannusantara.com) – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyiapkan Dewan Pakar Ikatan Alumni (IKA) Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai ruang strategis untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan pemerintah pusat maupun daerah.
Hal itu disampaikan Menko AHY saat menghadiri Rapat Dewan Pakar IKA UNAIR di Kantor Rektorat UNAIR Surabaya, Selasa (23/6/2026) malam.
AHY mengatakan bahwa ia sengaja hadir untuk bersilaturahim sekaligus berdiskusi dengan jajaran Dewan Pakar IKA UNAIR setelah dipercaya menjadi Ketua sejak Desember 2025.
“Saya didaulat pada bulan Desember 2025 lalu, ketika itu Ibu Gubernur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa datang ke Jakarta, ke kantor kami, beliau dalam kapasitas sebagai Ketua Ikatan Alumni UNAIR meminta saya untuk menjadi Ketua Dewan Pakar,” kata AHY.
Menurut AHY, amanah tersebut diterimanya sebagai bentuk penghormatan sekaligus kesempatan untuk berkontribusi bagi almamater.
“Karena menurut saya segala gagasan atau pemikiran, apalagi dari para guru besar, para profesor yang mengisi jajaran Dewan Pakar ini sangat berharga, sangat berarti sebagai bagian dari semangat kita memberikan terbaik untuk masyarakat juga untuk negara,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, AHY memaparkan sejumlah langkah awal yang akan dijalankan Dewan Pakar IKA UNAIR. Salah satunya melalui penyelenggaraan dialog dan forum produktif yang melibatkan berbagai kalangan.
“Saya ingin menyampaikan beberapa hal tentunya sebagai pembuka atau sebagai langkah awal Dewan Pakar dalam keluarga besar IKA UNAIR ini. Mudah-mudahan bisa mengambil peran yang baik, peran yang strategis tapi juga kontribusi yang nyata,” katanya.
Ia menjelaskan, Dewan Pakar IKA UNAIR berencana menggelar berbagai pertemuan dan diskusi yang konstruktif serta menyusun dokumen rekomendasi kebijakan.
“Termasuk menyusun semacam policy paper, policy recommendation, rekomendasi terkait dengan kebijakan-kebijakan yang bisa ditujukan bagi pemerintah, di pusat maupun di daerah,” ungkap AHY.
Menurut dia, masukan dari kalangan akademisi sangat dibutuhkan pemerintah dalam proses pengambilan keputusan.
“Saya rasa sangat menyadari pentingnya masukan dari kalangan kampus, dari para akademisi, para researcher bagi pemerintah yang setiap hari harus mengambil keputusan dan perlu pengayaan perlu penelitian dan dukungan data ataupun hasil riset yang memang relevan,” ucap dia.
Selain menyusun rekomendasi kebijakan, AHY juga menggagas pembentukan forum strategis yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk generasi muda.
“Bukan hanya internal Dewan Pakar, bukan hanya IKA UNAIR, tapi juga bisa mengundang berbagai stakeholders, berbagai kalangan, termasuk generasi muda, generasi Z yang dari waktu ke waktu sesuai dengan isu-isu yang sedang menjadi perhatian publik,” ujarnya.
Forum tersebut, kata AHY, dapat menjadi ruang diskusi berbagai persoalan nasional maupun internasional. “Apakah isu domestik nasional maupun isu internasional, kita bisa hadirkan dalam sebuah forum yang baik,” katanya.
AHY menilai kehidupan intelektual di lingkungan kampus perlu terus berkembang agar menghasilkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.
“Saya rasa itu, selebihnya ini sebuah hal yang positif kalau di kampus-kampus manapun, hidup pemikiran, hidup gagasan dan juga bisa dikontribusikan untuk pemerintah dan negara saya rasa akan baik sekali,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, AHY juga menegaskan bahwa Dewan Pakar IKA UNAIR akan bekerja melalui dua pendekatan, yakni penguatan kampus secara internal dan kontribusi terhadap pembangunan secara eksternal.
“Kalau melihat menggunakan dua lensa, lensa secara internal akademis kita ingin juga membahas apa yang bisa kita lakukan agar Kampus Unair ini juga semakin maju,” katanya.
Ia mengapresiasi capaian UNAIR yang terus meningkat dalam pemeringkatan dunia. “Saya baru membaca, Unair naik peringkat nomor tiga di Indonesia dan di dunia nomor 276. Ini berdasarkan QS World University Ranking,” sebut AHY.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan prestasi yang tidak mudah diraih dan harus terus ditingkatkan. “Suatu prestasi yang tidak mudah untuk naik secara bertahap masuk jajaran papan atas di Indonesia dan tentunya kita ingin semakin mendunia, semakin mengglobal,” katanya.
Karena itu, AHY memastikan Dewan Pakar IKA UNAIR akan berupaya memberikan kontribusi agar kampus tersebut semakin dikenal di tingkat internasional. “Jadi lensa pertama tentu secara internal kita ingin berkontribusi agar kampus UNAIR ini semakin maju dan dikenal di dunia,” imbuhnya.
Sementara dari sisi eksternal, AHY menegaskan pentingnya kontribusi akademisi untuk mendukung kebijakan publik. “Yang kedua tentu secara eksternal kita ingin sekali lagi yang saya sampaikan tadi memberikan kontribusi yang positif. Jadi, untuk memberikan masukan kepada pemerintah,” kata dia.
AHY menambahkan, seluruh upaya tersebut pada akhirnya harus bermuara pada manfaat nyata bagi masyarakat sesuai semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Saya rasa kita semua sepakat yang paling penting adalah dampak nyata untuk society (masyarakat),” tutupnya. (KN01)
